Bantenologi

Mengkaji Tradisi, Membangun Jati Diri

NIOD Amsterdam, UGM, dan Bantenologi Selenggarakan Workshop Warisan Arkeologi Kesultanan Banten

Senin, 27 Mei 2024, menjadi hari bersejarah bagi Laboratorium Bantenologi UIN SMH Banten dengan diselenggarakannya International Workshop bertema “Bouncing Forward Looking Back: Cultural Objects, Archaeological Sites, and Responses to Colonial Violence”. Workshop ini merupakan hasil kolaborasi antara Bantenologi, Universitas Gadjah Mada, dan NIOD Institute for War, Holocaust, and Genocide Studies dari Amsterdam, Belanda.

Netherlands Instituut voor Oorlogs Docimentatie (NIOD) adalah pusat penelitian bekas perang dunia, kekerasan massal, dan genosida nasional dan internasional, termasuk konsekuensi sosial jangka panjangnya. NIOD mengumpulkan, melestarikan dan memberikan akses terhadap arsip dan koleksi, terkhusus tentang perang dunia kedua, serta memberikan informasi kepada masyarakat luas, media, dan lembaga pemerintah.

Acara tersebut berlangsung di Gedung Fakultas Ushuluddin dan Adab, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dan menghadirkan tokoh tokoh penting dalam bidang arkeologi. Workshop ini bertujuan untuk membahas dan menganalisis bagaimana benda-benda budaya dan situs-situs arkeologi dapat memberikan wawasan tentang respons terhadap kekerasan kolonial, serta bagaimana masyarakat dapat belajar dan bangkit kembali dari masa lalu yang penuh kekerasan.

 

Di balik terselenggaranya acara tersebut, terdapat peran penting dari Adieyatna Fajri, seorang dosen muda dari Universitas Gadjah Mada. Beliau menjadi penggerak utama dalam menjalin kerja sama ini dengan Rohman Direktur Bantenologi. Kolaborasi ini mencerminkan semangat akademik dan dedikasi kedua belah pihak untuk mengeksplorasi dan memahami dampak kolonialisme melalui kajian budaya dan arkeologi.

Dalam sambutannya Rektor UIN SMH Banten, Prof. Dr. Wawan Wahyuddin, M.Pd.  mengucapkan selamat datang kepada para narasumber khususnya yang berasal dari negeri Belanda atas kehadirannya di UIN SMH Banten. Selain itu rektor berharap agar kerjasama akademik dapat ditindaklanjuti dengan kerjasama lainnya yang diikat dalam bentuk MoU antara UIN SMH Banten dan NIOD Amsterdam.

Beberapa pembicara utama dalam workshop ini termasuk ahli sejarah, arkeolog, dan pakar budaya membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka terkait topik yang diangkat.

Directur of NIOD Marthin Eickhoff, menyampaikan rasa terimakasih kepada semua partisipan pada workshop tersebut, karena telah menerima kedatangan mereka dengan baik.

Workshop ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi pertukaran pengetahuan dan ide, serta memperkuat kerja sama internasional dalam bidang sejarah dan budaya.

Hari kedua Workshop

Pada Selasa, 28 Mei 2024, para partisipan International Workshop “Bouncing Forward Looking Back: Cultural Objects, Archaeological Sites, and Responses to Colonial Violence” melanjutkan rangkaian kegiatan dengan melakukan site visiting ke Banten Lama. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari workshop yang diadakan pada 27 Mei 2024, sebagai upaya untuk memperdalam pemahaman tentang warisan budaya dan sejarah Banten.

Kunjungan ini mencakup beberapa situs bersejarah penting di Banten Lama, antara lain: Keraton Kaibon, keraton Surosowan, Danau Tasukardi, Museum Banten lama, Masjid Agung Banten, dan Batik Banten.

Situs ini merupakan sisa-sisa dari istana yang dibangun pada masa kejayaan Kesultanan Banten. Para partisipan diajak untuk mengeksplorasi arsitektur dan sejarah yang melekat pada keraton ini.

Direktur NIOD, Marthin Eickhoff menyatakan kekagumannya terhadap luas dan keindahan reruntuhan Keraton Surosowan. “Saya sangat senang berkunjung ke Banten Lama dan mengunjungi beberapa tempat. Saya begitu kagum pada bangunan reruntuhan Keraton Surosowan yang sangat luas dan indah. Saya kebingungan bagaimana VOC dan masyarakat lokal terlibat, ini sangat menarik perhatian saya,” ujarnya.

 

Kepala pusat ahli restitusi, NIOD Institute, Klaas Stutje menambahkan, “Saya sangat kagum dan sangat tertarik dengan peninggalan Kesultanan Banten. Ini adalah pengalaman yang luar biasa untuk melihat secara langsung bagaimana sejarah dan budaya Banten terjaga hingga saat ini.”

Site visiting ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung kepada para peserta tentang kekayaan budaya dan sejarah Banten. Selain itu, kunjungan ini juga bertujuan untuk menghubungkan teori yang dipelajari dalam workshop dengan kenyataan di lapangan, sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif.

Adieyatna Fajri dosen muda Universitas Gadjah Mada yang juga penggerak utama dari workshop ini, bersama dengan Rohman, Direktur Bantenologi, menyampaikan harapannya bahwa kegiatan ini dapat menginspirasi para peserta untuk lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya. Kunjungan ini juga merupakan langkah nyata dalam upaya memahami dan merespons dampak kolonialisme melalui pendekatan budaya dan arkeologis.

Dengan melanjutkan pembelajaran dari workshop ke site visiting ini, diharapkan peserta dapat membawa pulang pengetahuan dan pengalaman berharga yang dapat diterapkan dalam penelitian dan kegiatan akademis mereka di masa depan. (Suvi A.Z).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *