Bantenologi

Mengkaji Tradisi, Membangun Jati Diri

Ekstrakurikuler Social Studies SMP Pahoa Kunjungi Banten Lama Bersama Bantenologi

Ekstrakurikuler Social Studies SMP Pahoa mengunjungi situs Banten Lama bersama Bantenologi sabtu, 18 Mei 2024 lalu. SMP Pahoa sendiri merupakan sekolah yang beralamat di Summarecon, Serpong, Tangerang.

Menurut Ibu Yessy, penanggungjawab ekskul Social Studies SMP Pahoa, kegiatan ini merupakan kegiatan siswa SMP Pahoa yang memiliki minat pada studi sosial. Terdapat puluhan anak yang berminat untuk memperdalam kajian-kajian sosial namun yang berkesempatan untuk ikut dalam field trip ini berjumlah tujuh orang siswa yang berasal dari kelas VII dan VIII SMP Pahoa bersama sejumlah dewan guru.

Menurut Yessy, karena Banten merupakan wilayah yang kaya akan sejarah maka kunjungan ke Banten Lama menjadi salah satu kegiatan yang perlu untuk dilakukan bersama anak-anak asuhnya, pungkasnya.

Mitra yang dianggap dapat menjelaskan sejarah Banten Lama secara utuh adalah laboratorium Bantenologi yang merupakan pusat kajian kebantenan yang sedang leading di Banten.

Sementara direktur Bantenologi, Rohman, mengungkapkan bahwa institusi yang dipimpinnya merasa sangat bangga dapat bekerjasama dengan sekolah Pahoa yang merupakan sekolah yang memiliki sejarah yang cukup panjang di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Chotibul Umam, salah seorang pengurus Bantenologi, langsung bertindak sebagai pemandu. Kegiatan tour Banten Lama Pahoa-Bantenologi dimulai dari kunjungan ke Museum yang ketika itu bertepatan dengan kunjungan warga Baduy yang sedang melaksanakan upacara Seba.

Setelah beramah tamah dengan beberapa warga Baduy, siswa Pahoa kemudian mengunjungi istana dan benteng Surosowan. Di sana pemandu menjelaskan dengan detail sejarah terbentuknya kesultanan Banten hingga mencapai puncak kejayaannya di bawah sultan Ageng Tirtayasa. Beberapa bagian situs Surosowan juga menjadi bahan pertanyaan siswa Pahoa mulai dari gerbang istana, Srimanganti, dapur istana, pemandian, pengindelan emas, dll.

Siswa Pahoa kemudian juga dijelaskan mengenai sejarah masjid Banten lama beserta menara menara setinggi 24 meter yang dirancang oleh arsitek Cina bernama Cek Ban Cut (Tjek Ban Tjut) dan tiyamah (paviliun) bergaya Eropa yang dirancang oleh Lucaasz Cardeel, orang Belanda yang konon masuk Islam.

Perjalanan kemudian berlanjut ke pelabuhan Karangantu yang merupakan pelabuhan penting bagi Kesultanan Banten dimana pedagang dari berbagai negara di dunia mengunjunginya untuk berniaga sekaligus bertukar ilmu pengetahuan. Setelah itu mereka diajak mengunjungi benteng Speelwijk di Kampung Pamarican, Desa Banten yang berjarak sekitar satu kilo meter dari Karangantu.

Menurut pemandu, Benteng Speelwijk ini didirikan pada abad ke-17, lebih tepatnya ketika Abu Nasr Abdul Qohhar atau Sultan Haji (1672-1684) berkuasa di Banten atau pada saat Banten mulai kuasai oleh Belanda. Situs terakhir yang dikunjungi adalah istana Kaibon yang merupakan istana untuk ibu sultan Syafiudin pada awal abad ke-19.

Perwakilan siswa Pahoa mengungkapkan kegembiraannya di akhir perjalanan kepada pengurus Bantenologi. Mereka merasa takjub dengan kemegahan Surosowan dan kesultanan Banten pada masa lampau dan berterimakasih kepada Bantenologi yang telah menjelaskan sejarah kesultanan Banten kepada mereka. (Rohman).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *