Bantenologi

Mengkaji Tradisi, Membangun Jati Diri

Gema Ramadan Warga Sukamaju Lebak: Fase Spiritual di Tengah Modernisasi dan Sekularisasi

Tahun 1980-an di Indonesia merupakan periode perkembangan sosial dan ekonomi yang signifikan. Namun, di balik kemajuan tersebut, sebagian masyarakat masih bergulat dengan isu-isu akses pendidikan dan pemahaman agama.

Salah satu faktor utama adalah terbatasnya akses pendidikan formal, terutama di daerah pedesaan. Pada kisaran tahun 1980-an pemerintah lebih memprioritaskan proyek-proyek infrastruktur daripada investasi di bidang pendidikan. Hal ini mengakibatkan kurangnya guru yang berkualitas dan infrastruktur pendidikan yang tidak memadai di desa-desa terpencil.

Akibatnya banyak anak, terutama anak perempuan, tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh kemampuan dasar membaca dan berhitung. Kurangnya pendidikan ini sering kali diterjemahkan ke dalam pengabaian akan pentingnya pendidikan yang melanggengkan siklus.

Selain itu, realitas ekonomi yang keras sering sekali dihadapi oleh banyak keluarga. Di masyarakat pedesaan, keberlangsungan hidup sering kali lebih diutamakan daripada pendidikan. Keluarga-keluarga mengandalkan pekerja anak untuk menambah penghasilan mereka, sehingga memaksa anak-anak untuk bekerja di ladang atau melakukan pekerjaan kasar daripada bersekolah.

Fokus pada kebutuhan mendesak ini menyisakan sedikit ruang untuk memprioritaskan manfaat jangka panjang seperti pendidikan. Hal ini juga terjadi di Kampung Sukamaju, Desa Cijaku, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sehingga salah satu tokoh Masyarakat tergerak karena kekhawatirannya terhadap hal tersebut.

Almarhum KH. Diding Saprudin seorang lulusan pesantren Darussalam gontor mengajak beberapa rekannya yang juga memiliki latar belakang Pendidikan pesantren merasakan kegelisahan terhadap kondisi pendidikan masyarakat. Akhirnya menggagas kegiatan yang berpusat di masjid At-Taufiq Sukamaju dalam rangka menyambut bulan ramadan. Aktivitas ini merupakan kegiatan yang mengajak masyarakat untuk belajar mengaji di masjid untuk kalangan anak berusia 6 sampai 17 tahun.

Pada tahun 1980 merupakan awal kegiatan ini berdiri namun tidak berfokus pada kegiatan mengajar atau mengaji, melainkan lebih mengedapankan nilai seni dan kreativitas. Hal ini dilakukan agar menarik minat masyarakat agar ikut serta dalam kegitan yang diselenggarakan pada bulan Ramadan.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1983 dibuat organisasi bernama Himpunan Pelajar Kemantren Cijaku (HPKC). Kegitan ini terus dilanjutkan dan dikembangakan oleh perintis pertama yaitu Saeroji dan Hj Enong Jenab. Kedua tokoh tersebut merupakan saudara kandung yang saat itu masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs). Kegiatan terus berjalan setiap tahunnya sampai pada tahun 1989 dibuatlah panitia khusus yang berfokus melakasanakan kegiatan tersebut yang diberi nama Panitia Gema Ramdhan Masjid At- Taufiq (PAGERAMAT).

Pada tahun 1998 merupakan masa keemasan Gema Ramadan di Kampung Sukamaju karena banyaknya anak yang mengikuti kegiatan ini, hal ini menunjukkan bahwa acara ini telah berhasil menarik minat dan kepercayaan masyarakat, sehingga banyak anak yang bergabung pada kegiatan ini.

Pada tahun 1999, para penggagas melihat adanya peluang untuk mengembangkan kegiatannya ke luar Kampung Sukamaju. Mengingat para penggagas merupakan seorang ketua Yayasan yang menaungi 2 sekolah.

Akhirnya kegiatan gema Ramadan berkolaborasi dengan sekolah dan mewajibkan siswa untuk menyelenggarakan gema Ramadan di kampung halamannya. Hal ini menjadi cikal bakal adanya kegiatan gema Ramadan di berbagai desa di Kecamatan Cijaku dan Cigemblong.

Pada tahun 2000, PAGERAMAT berganti nama menjadi Remaja Masjid At-Taufiq Sukamaju (REMAS) dan terus berkembang hingga saat ini dengan mempertahankan esensi agama dan pendidikan secara umum.

Visi yang dibawa yaitu untuk menjadi acara yang unggul dalam membina generasi muda yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia dan juga meningkatkan pengetahuan keagamaan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ilmu pengetahuan melalui berbagai kegiatan edukatif dan kreatif.

Setelah berjalannya kegiatan ini, Gema Ramdan terus berkembang menjadi lebih menarik yang dikemas dengan adanya acara    kuliah tujuh menit (KULTUM) sebelum berbuka puasa yang di awali setelah sholat ashar dan setelah sholat subuh kemudian berlanjut pada kegiatan pengajian Sosompang, belajar bersama, perlombaan dan hafalan Al-qur’an.

Setelah bulan ramdan berakhir, para panitia menyelenggarakan halal bihalal sebagai ajang untuk pertujukan seni, Tabhligul Islamiyah, doa bersama dan berakhirnya kegiatan gema Ramadan pada tahun tersebut.

Acara halal bihalal akan di laksanakan sangat meriah oleh seluruh masyarakat Kampung Sukamaju dengan bergotong royong menyiapkan acara mulai dari pengisi acara yang melibatkan para remaja dan anak-anak, panggung dan lain sebagainya oleh para bapak bapak, untuk kudapannya biasanya disiapkan oleh ibu-ibu seperti kue tradisional khas Banten yaitu Nagasari, Pasung, Bugis dan lainnya.

Sampai saat ini acara halal bihalal dan gema Ramadan telah menjadi agenda tahunan yang menjadi budaya yang di selenggarakan secara sangat meriah  dengan mengundang para mubhaligh besar dari berbagai daerah.

Saat ini kegiatan gema Ramadan telah menginjak usia ke-33 tahun lebih yang acaranya tidak hanya tentang kegiatan keislaman saja melainkan kegiatan hala bihalal pun rutin dilaksanakan sebagai ajag silaturahmi antar masyarakat.

Para mentor serta penggagas berharap kegiatan ini bisa menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat Lebak umumnya dan masyarakat Indonesia khususnya, serta menjadi inspirasi bagi komunitas-komunitas lain di Indonesia untuk menyelenggarakan acara serupa. Dengan demikian, kita dapat bersama-sama membangun generasi muda yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, demi kemajuan bangsa dan negara. (Suvi Arriffatul Zaein)

 

Narasumber :

  1. H Saeroji M.Pd
  2. Hj Enong Jaenab
  3. Dwi rahmanto S.Sos
  4. Kiyai Syamsudin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *