Bantenologi

Mengkaji Tradisi, Membangun Jati Diri

Keruntuhan Kerajaan Pajajaran dan Kemunculan Kesultanan Banten Yang Kharismatik

Oleh : Adung Abdul Haris

I. Pendahuluan

 

Berakhirnya zaman kerajaan Pakuan-Pajajaran (1482 – 1579 M) merupakan awal dari kemunculan Kesultanan Banten yang demikian kharismatik di mata dunia. Hal itu ditandai dengan diboyongnya batu Palangka Sriman Sriwacana dari Pakuan-Pajajaran ke Surasowan, Banten oleh pasukan Sultan Maulana Yusuf. Batu tersebut di boyong ke Banten karena tradisi politik saat itu mengharuskan demikian. Pertama, dengan diboyongnya batu Palangka Sriman Sriwacana tersebut, akhirnya di internal kerajaan Pakuan-Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki batu Palangka Sriman Sriwacana, Sultan Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang sah, karena buyut perempuannya puteri dari Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

Sementara mengenai asal-usul dari Palangka Sriman Sriwacana atau Batu Gilang itu, sebagaimana dikisahkan di dalam Carita Parahiyangan, “Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata”. Artinya, Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan-Pajajaran yang bersemayam di Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu Istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata.

Secara etimologis (bahasa),  makna kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti tahta, dalam hal ini adalah tahta untuk menobatkan seorang raja, dan tempat duduk khusus yang hanya digunakan untuk upacara penobatan seorang raja, diatas Palangka yang berada di Kabuyutan itu seorang calon raja Pajajaran diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Bahkan, sesuai dengan tradisi saat itu, bahwa tahta itu terbuat dari batu yang digosok sehingga menjadi halus dan mengkilap. Batu tahta seperti itu oleh masyarakat saat itu disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang, yakni apabila dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa. Sedangkan Batu Gilang Palangka Sriman Sriwacana, hingga saat ini masih bisa kita saksikan di depan bekas Keraton Surasowan Banten. Karena bentuknya yang mengkilap, maka masyarakat Banten saat itu menyebutnya Watu Gigilang, yang berarti Batu yang mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Dan batu Gilang itu diboyong dari Istana Pakuan-Pajajaran, yaitu setelah serangan yang ketiga kalinya, yang dilancarkan oleh pasukan dari Kesultanan Banten ke Istana kerajaan Pakusn-Pajajaran. Dan akhirnya, membuat tamat-lah riwayat Kerajaan Pakuan-Pajajaran. Dengan kata lain, di akhir masa Kerajaan Pajajaran ini, yaitu ditandai dengan diboyongnya Batu Gilang yang merupakan simbol dari kerajaan Pajajaran saat bertahta. Sementara kisah pemindahan batu Palangka tersebut sebagaimana dijelaskan di dalam buku berjudul “Hitam Putih Pajajaran : Dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran”. Buku tersebut karya dari Fery Taufiq El Jaquenne. Di dalam buku tersebut dijelaskan tentang bagaimana proses pemindahan Batu Gilang itu oleh Sultan Maulana Yusuf.

Pasca berdirinya Kesultanan Banten yang demikian kharismatik, tidak hanya terkenal sebagai salah satu kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa Barat, atau sebagai pusat niaga setelah Malaka dikuasai Portugis pada 1511M. Namun, dinamika dan sejarah panjang wilayah Banten, ternyata jauh lebih kaya dari itu. Bahkan di dalam buku Ragam Pusaka Budaya Banten, akhirnya para arkeolog dan sejarawan mereka telah membuat catatan, bahwa Banten sudah ditinggali sejak zaman manusia purba. Dan salah satu buktinya adalah telah ditemukannya artefak berupa alat batu di situs Cigeulis, Pandeglang. Dan diperkirakan, bahwa alat-alat berupa kapak sederhana dari batu itu digunakan untuk berburu dan mengumpulkan berbagai makanan. Selain kapak, dimasa selanjutnya juga ditemukan beliung persegi. Dan beliung persegi itu, hingga saat ini masih digunakan oleh suku asli di Papua.

Dengan kata lain, bahwa sejarah Banten, memang sangat melankolis, megalitik dan purbalistik. Yakni, perjalanan sejarah manusia yang sudah berlangsung sejak zaman pra sejarah, zaman sejarah (zaman klasik), zaman Kesultanan Islam Banten, zaman Kolonial Belanda dan Jepang, dan hingga zaman saat ini, yakni yang disebut zaman milenial.

II. Sejarah Masuknya Islam Ke Wilayah Banten

Banten dalam konteks sekarang sudah menjadi salah satu wilayah Provinsi di Indonesia. Namun Banten dalam perjalanan sejarahnya, memamg memiliki cerita yang panjang dan kaya akan warisan budaya dan agama. Bahkan, Banten juga dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Nusantara, yakni sejak abad ke-16 hingga abad ke-19 M.

A. Latar Belakang
Banten sebelum masuknya Islam merupakan bekas Kerajaan Salakanagara, kerajaan Tarumanegara dan kerajaan Pajajaran. Sementara kerajaan Pajajaran berpusat di Pakuan (Bogor). Banten sejak abad ke-12 M, sudah menjadi kota pelabuhan yang ramai dan strategis, karena terletak di jalur perdagangan Internasional antara India, Cina, dan Timur Tengah. Banten juga memiliki sumber daya alam yang melimpah, seperti lada, emas, dan rempah-rempah. Banten mulai dikenal sebagai nama tempat sejak abad ke-15 M, yaitu berdasarkan sumber-sumber Cina dan Portugis. Bahkan, di dalam sumber lokal, nama Banten disebut pertama kali dalam naskah Carita Parahyangan, yang ditulis pada tahun 1580 M. Di dalam naskah Carita Parahyangan itu disebutkan tentang adanya sebuah tempat yang disebut “Wahanten Girang” yang dapat dihubungkan dengan nama Banten.

B. Masuknya Islam
Islam masuk ke wilayah Banten melalui dua jalur utama, yaitu jalur perdagangan dan jalur dakwah. Jalur perdagangan adalah jalur yang dilalui oleh para pedagang Muslim dari Arab, Persia, India, dan Malaka, yang datang ke Banten untuk berdagang dan menetap di Banten. Mereka membawa serta ajaran Islam dan mengajarkannya kepada masyarakat setempat. Lebih dari itu, jalur dakwah juga dilakukan oleh para ulama dan para wali (Walisongo), yang datang ke wilayah Banten untuk menyebarkan ajaran Islam dan mendirikan pesantren. Mereka juga membantu para pedagang Muslim dalam konteks untuk menghadapi tantangan dari penguasa Hindu-Buddha dan pihak penjajah Eropa. Salah satu tokoh penting dalam jalur dakwah adalah Syaikh Syarif Hidayatullah atau Syaikh Sunan Gunung Jati. Beliau merupakan salah seorang Wali Songo (sembilan wali) yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa. Pada tahun 1479 M, Sunan Gunung Jati, pertamakali datang ke Banten untuk berdakwah. Ia juga mendirikan pesantren di Cirebon dan sekaligus menjadi raja di Kerajaan Cirebon. Syaikh Syarif Hidayatullah juga membantu Fatahillah (atau Faletehan), yaitu seorang panglima perang dari Demak, dalam upaya untuk menaklukkan Sunda Kelapa (Jakarta) dari penjajah Portugis, yaitu pada tahun 1527 M. Setelah berhasil merebut Sunda Kelapa, akhirnya Sunan Gunung Jati melanjutkan perjuangan ke arah Barat. Sunan Gunung Jati terus memperluas kekuasaan Kesultanan Cirebon ke wilayah Banten. Dan akhirnya, pasukan Islam dari Demak dan Cirebon dapat menaklukan kerajaan Pajajaran, yaitu pada tahun 1527 M, dan Banten Lama jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Islam Banten. Dan Sunan Gunung Jati kemudian menobatkan Hasanuddin (putranya) sebagai raja pertama di Kesultanan Banten dengan gelar Maulana Hasanuddin, sementara Sunan Gunung Jati sendiri kembali ke Cirebon.

C. Berkembangnya Islam
Islam berkembang pesat di wilayah Banten setelah berdirinya Kesultanan Banten. Sultan Maulana Hasanuddin membangun Masjid dan Istana kesultanan, yang kemudian dikenal sebagai Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan. Ia juga memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Lampung dan Sumatera Selatan. Sultan Maulana Hasanuddin digantikan oleh putranya, yaitu Sulatan Maulana Yusuf, pada tahun 1570. Maulana Yusuf terus memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara lain, seperti Aceh, Turki Utsmani, Inggris, Cina, India, Eropa dan lain sebagainya. Ia juga mengirim utusan ke Mekkah untuk menjalin hubungan dengan dunia Islam.

Sultan Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 M, dan  digantikan oleh putranya, yaitu Maulana Muhammad. Ia juga melanjutkan hubungan dagang dengan negara-negara asing dan mengirim utusan ke Mekkah. Maulana Muhammad wafat pada tahun 1596 M, dan digantikan oleh putranya, yaitu Maulana Abdul Kadir. Maulana Abdul Kadir menghadapi persaingan dengan Kesultanan Mataram dari Jawa Tengah, yang berusaha menguasai Banten. Sementara Kesultana Banten mengalami masa keemasan atau masa kejayaannya, yaitu ketika dimasa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Ia terus memperkuat pertahanan militer dan maritim Banten, dan terus membangun benteng-benteng untuk melindungi Banten dari serangan musuh. Sultan Ageng Tirtayasa juga dikenal sebagai raja yang taat beragama dan mencintai ilmu pengetahuan. Ia mendirikan madrasah-madrasah untuk mengajarkan agama Islam kepada rakyatnya. Ia juga mendatangkan ulama besar salah satunya adalah Syekh Yusuf Al-Makassari. Namun ketika terjadi perselisihan dengan sang putranya sendiri, yakni dengan Sultan Haji, maka sejak saat itu pihak kolonial Belanda semakin leluasa untuk terus mengintervensi di internak kepemimpinan kesultanan Banten maupun di tengah-tengah masyarakat Banten.

Bahkan, Sultan Ageng Tirtayasa, hingga akhir hayatnya ia berada di dalam tahanan, yakni di dalam penjara Batavia, akibat terjadinya perebutan kekuasaan antara Sultang Ageng Tirtayasa dengan sang putranya sendiri, yakni dengan Sultan Haji. Bahkan, ketika Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh kompeni Belanda, sejak saat itu terus terjadi perang besar melawan Belanda selama sepuluh tahun (1687-1697). Perang itu dikenal sebagai Perang Puputan Banten (Perang Besar Banten). Perang tersebut berakhir dengan kekalahan Banten, dan bahkan sampai berlanjut pada proses penghancuran Keraton Surosowan oleh tentara Belanda. Bahkan tragisnya, ketika dimasa kepemimpinan Sultan Haji, malah terjadi penandatanganan perjanjian antara Kesultanan Banten dengan pihak VOC pada tahun 1703, yang isi perjanjian tersebut memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah kepada pihak Belanda. Ia juga menyerahkan sebagian besar wilayah Banten kepada Belanda.

Namun bisa disimpulkan, bahwa Islam masuk ke Banten melalui jalur perdagangan dan jalur dakwah. Islam berkembang pesat di Banten setelah berdirinya Kesultanan Banten pada tahun 1527 M. Kesultanan Banten mengalami masa kejayaan dan sekaligus masa kemunduran sepanjang sejarahnya. Kesultanan Banten berakhir pada tahun 1851 M, yakni setelah ditaklukkan oleh Belanda. Banten kemudian menjadi Provinsi di Indonesia yang tetap menjaga warisan Islam hingga kini.

III. Triparti Pilar Penyebaran Islam di Kesultanan Banten

Salah satu versi cerita menyebutkan, bahwa Sultan Maulana Hasanuddin, ia berhasil menyebarkan ajaran Islam di wilayah Banten, karena ia telah mampu meyakinkan 800 ajar untuk masuk Islam. Dengan kata lain, bahwa proses penyebaran agama Islam di wilayah Banten memang dilakukan secara intensif, yakni baik melalui pendekatan atau melalui jalur yang bersifat asimilatif maupun diplomatik-sublimatik (Sultan Maulana Hasanuddin terus meyakinkan kepada 800 ajar yang ada di Gunung Pulosari). Lebih dari itu, proses dakwah di wilayah Banten juga ditempuh melalui taktik strategis-mileristik (jalur peperangan), yakni sejak zaman Sultan Maulana Hasanuddin (1526-1570). Dan ajaran Islam disebarkan, baik di kawasan pesisir maupun di daerah pedalaman (daerah Banten bagian Selatan). Dan Sultan Maulana Hasanuddin merupakan tokoh sekaligus penguasa pertama di Banten yang menyebarkan agama Islam dan sekaligus mendirikan kesultanan Banten yang demikian kharismatiknya.

Bahkan, dalam proses islamisasi dan merebut kekuasaan, tentunya ada konsekuwensi logis serta persaingan politik tentunya dengan penguasa lokal, yang saat itu yang dipimpin Prabu Pucuk Umun, yakni adipati Kerajaan Banten Sunda. Namun, sebelum Sultan Maulana Hasanuddin datang dan menyebarkan ajaran Islam di Banten, wilayah Banten sat itu juga sudah dipandang maju dari segi ekonomi dan kebudayaan. Kebudayaan tersebut bersumber dari kerajan-kerajaan sebelumnya. Lalu dari segi ekonomi juga sudah mempunyai hubungan dengan daerah lain.

Namun, begitu kekuasaan beralih kepada Maulana Hasanuddin pada tahun 1525 M, maka terjadilah perubahan radikal yang juga berpengaruh pada penyebaran Islam di wilayah Banten, bahkan di Nusantara. Paling tidak, ada tiga perubahan besar yang dilakukan Sultan Banten untuk menyebarkan Islam di wilayah Barat pulau Jawa itu.

Pertama, perubahan dalam bidang politik. Sultan Banten mengubah politik dan pemerintahan, yang awalnya bersumber dari Hindu-Budha menjadi politik bernuansa Islam. Banten yang semula hanya sebuah Kadipaten dari Kerajaan Banten Sunda, kemudian menjadi suatu negara yang berdaulat. Sedangkan menjadikan Banten sebagai negara berdaulat, hal itu merupakan bagian dari misi Sultan Maulana Hasanuddin untuk mengislamkan masyarakat Banten, sesuai dengan tugas yang diberikan oleh ayahnya, yakni oleh Sunan Gunung Djati. Maka, tak bisa dipisahkan proses islamisasi serta muatan Islam di dalam kekuasaan Sultan Banten yang pertama dan seterusnya.
Kedua, perubahan dalam bidang kebudayaan. Perubahan dari budaya masyarakat yang awalnya bersumber dari ajaran Hindu Budha, akhirnya beralih ke budaya yang bersumber dari ajaran Islam.  Sehingga terjadi akulturasi budaya dan dialog kultural antara budaya Sunda yang Hindu dengan kebudayaan Islam. Dan dialog inilah yang menimbulkan kekhasan kebudayaan Banten. Sementara peran yang dimainkan oleh Sultan Maulans Hasanuddin dalam konteks “dialog budaya ini”,  merupakan strategi dakwah yang tentunya meniru watak dakwah Walisongo dalam menyebarkan Islam.  Misalnya, menggunakan media wayang kulit atau wayang golek yang merupakan kebudayaan yang sudah ada sebelum Islam. Dan Wlwayang kulit atau wayang golek digunakan sebagai media dakwah dalam mengembang kebudayaan Islam untuk memberikan visualisasi bagaimana menjadi pribadi Muslim dan  seorang muslim dalam bermasyarakat. Dan bahkan, yang menonjol dalam konteks dakwah di Banten ketika di zaman Sultan Maulana Hasanuddin adalah melalui seni budaya Debus. Karena metodologi dakwah ‘Walisongo, yaitu melalui visualisasi wayang dan lain sebagainya. Nah, begitu juga yang dilakukan Maulana Hasanuddin di Banten.

Ketiga, perubahan ekonomi. Sultan Maulana Hasanuddin, ia terus melakukan perubahan ekonomi dengan cara memindahkan pusat pemerintahannya dari Banten Girang ke Surosowan yang berada di pesisir pantai. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan independensi kekuasaan, termasuk independensi dalam bidang ekonomi. Dan Kota Surosowan yang dibangun di wilayah pesisir, sangat potensial untuk berkembang secara ekonomi, dengan didukung pengembangan Palabuhan Karangantu, sebagai pelabuhan internasional atau transnasional.  Setelah pusat pemerintahan dipindahkan ke Surosowan, maka jaringan ekonomi mulai dibangun oleh sultan. Dan saat itu para pemangku kepentingan di internak kesultanan berpikir, bahwa kesultanan Banten harus didukung kekuatan ekonomi penuh.

Sementara secara geografis, letak  kesultanan Banten, berada di ujung Barat Pulau Jawa, dan sejak awal Kesultanan Banten memang terus memainkan peran penting dalam aspek maritim, perdagangan, dan kebudayaan. Sebagai pusat perdagangan, Banten menjadi kota yang makmur dan penduduknya sudah mulai padat saat itu. Bahkan, keberadaan Pelabuhan Banten (Karangantu) saat itu menjadi pertemuan pedagang Arab, India, Cina, dan Eropa. Pemerintahan Kesultanan Banten yang didasarkan pada sistem monarki absolut saat itu, namun telah mencerminkan nilai-nilai Islam, serta dikenal dengan kebijakan toleransi agama yang sangat tinggi.

Sementara kronologis penaklukan Banten dari kerajaan Pajajan, yaitu setelah ditaklukan oleh kesultanan Demak, pada tahun 1524 hingga 1525, akhirnya Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) bersama pasukan Demak terus menguasai pelabuhan Banten dari penguasa Banten (Kerajaan Sunda) sehingga berhasil membuat wilayah Banten berafiliasi dengan Kesultanan Demak. Hal itu sebagaimana dijelaskan di dalam buku berjudul “Kerajaan-Kerajaan Nusantara”. Buku tersebut ditulis oleh Woro Miswati.

Di dalam buku tersebut diceritakan, bahwa pada tahun 1552 M, Kesultanan Banten akhirnya resmi dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin yaitu putra dari Sunan Gunung Jati. Kehidupan politik kesultanan tersebut juga berkaitan erat dengan pernikahan Sultan Hassanuddin dengan putri Sultan Trenggono. Dari pernikahan itu, menghasilkan dua putra yaitu Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara. Adapun Maulana Yusuf sebagai anak pertama, akhirnya ia menggantikan ayahnya menjadi Sultan Banten pada 1570 M. Setelah meninggalnya Maulana Yusuf pada tahun 1580 M, maka terjadi perebutan kekuasaan antara anak Maulana Yusuf yang masih muda bernama Maulana Muhammad dengan Pangeran Jepara, pamannya. Namun berkat bantuan dari kalangan para ulama, akhirnya Maulana Muhammad berhasil menyingsingkan serangan dari Pangeran Jepara. Setelah melalui masa-masa konsolidasi internal pemerintahan, selanjutnya Kesultanan Banten memfokuskan diri pada perluasan wilayah dan perebutan hegemoni di Selat Sunda dan Laut Jawa dengan Mataram, Portugal, dan Belanda (VOC).

Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (Abu Fatah Abdulfatah).
Pada saat itu, pelabuhan Banten (pelabuhan Karangantu) menjadi pelabuhan Internasional sehingga proses neraca perdagangan di Kesultanan Banten terus mengalami perkembangan yang sangat pesat, karena secara geografis posisi pelabuhan Banten sangat strategis, yakni menghadap langsung ke jalur perdagangan yaitu Selat Sunda dan Laut Jawa. Sementara kondisi politik pada saat itu, terutama di tahun 1511 M, membuat pelabuhan Malaka jatuh ke tangan Portugis, sehingga para pedagang Melayu akhirnya lebih memilih Banten sebagaii tempat transit. Sebagai pelabuhan penting, Banten menjadi pusat perdagangan yang vital bagi bangsa Eropa. Mengingat tanah pedalaman Banten memang sangat subur, akhirnya menunjang Banten untuk menjadi penghasil komoditas lada, beras, dan hasil rempah-rempah lainnya.

Untuk meningkatkan kekuatan dalam negeri, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa melakukan usaha konsolidasi dengan Lampung, Selebar, Bengkulu, dan Cirebon. Bahkan, upaya di bidang politik diplomatik Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengirimkan utusan mereka ke Inggris pada tahun 1681 M. Hubungan dagang dengan Dinasti Ming di China juga telah memungkinkan Kesultanan Banten membentuk jaringan pertukaran tenaga kerja, modal, dan barang dagangan seperti komoditi sutera, beludru, satin, benang, piring, dan porselen.

A. Raja-Raja Di Kesultanan Banten

Sejak berdirinya Kesultanan Banten sistem pemerintahannya didasarkan pada sistem monarki absolut, dimana sultan memegang kekuasaan tertinggi. Dan berikut ini para Sultan atau Raja di Kesultanan Banten :

(1). Syarif Hidayahtullah (Sunan Gunung Jati), namu ia tidak mentasbihkan diri sebagai Sultan atau sebagai raja Banten (2). Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan (1552-1570). (3). Maulana Yusuf Panembahan Pakalangan Gede (1570-1580). (4). Maulana Muhammad Pangeran Ratu Ing Banten (1525-1552). (5). Sultan Abul Mafachir Mahmud Abdul Kadir Kenari (1580-1596). (6). Sultan Abul Ma’ali Ahmad (1596-1651). (7). Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672). (8). Sultan Abun Nasr Abdul Kahhar-Sultan Haji (1672-1687). (9). Sultan Abdulfadhl (1687-1690). (10).
Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733). (11). Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin (1733-1750). (12). Sultan Syarifuddin Ratu Wakil (1750-1752)
13. Sultan Muhammad Wasi Zainul Alimin (1752-1753). (14). Sultan Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773). (15). Sultan Abul Mafakih Muhammad Aliyuddin (1773-1799). (16). Sultan Muhyiddin Zainussholihin (1799-1801). (17). Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqi (1801-1802). (18). Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803). (19). Sultan Agilludin (1803-1808). (20). Sultan Wakil Pangeran. (21). Suramanggala (1808-1809). (22). Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813). (23). Sultan Muhammad Rafi’uddin (1813- 1820).

IV. Taktik Dan Strategi Dari Pihak Kesultanan Banten Untuk Taklukan Pakuan-Pajajaran

Kerajaan Pajajaran didirikan pada tahun 1333 M, oleh beberapa bangsawan dari Galuh. Kerajaan yang beribu kota di Pakuan (kini, Bogor) itu memang telah berhasil menyatukan seluruh wilayah Jawa Barat, yakni dari Selatan sampai Utara, di bawah kekuasaan tunggal. Kerajaan Pajajaran melancarkan serangan ke pelabuhan-pelabuhan pesisir Utara, termasuk ke Wahanten Girang atau Banten Girang. Menurut sejarawan Claude Guillot, sebagaimana ia jelaskan di dalam bukunya berjudul “Banten : Sejarah dan Peradaban Abad X – VIII”, bahwa Banten Girang telah dikuasai sepenuhnya oleh pihak kerajaan Pajajaran, yaitu di tahun 1400 M. Bahkan hanya satu kali serangan yang dilakukan oleh pasukan Panjaran terhadap Kota Banten Girang. Hal itu juga sebagaimana diceritakan di dalam teks “Carita Parahyangan”, bahwa serangan itu dilakukan oleh pasukan Pajajaran dengan mulus dan tampa ada hambatan. Dan akhirnya, wilayah Banten sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Pajajaran hingga awal abad ke-16 M. Namun, ketika kekuasaan Pajajaran itu terus mengalami kemerosotan. Sementara pada saat yang brrsamaan, pihak kesultanab Demak, ketika itu terus melancarkan beberapa serangan ke wilayah Banten, yakni sejak tahun 1520 M. Sementara untuk menghadapi serangan dari pasukan Demak dan Cirebon, akhirnya pada tahun 1511M, sang penguasa Banten (kerajaan Pajajaran) mereka berusaha untuk meminta bantuan dari pihak kolonial Portugis di Malaka. Tapi, disaat yang sama, dari kesultanan Demak juga telah mengutus salah seorang ulama, yaitu Sunan Gunung Jati beserta putranya (Maulana Hasanuddin), ke wilayah Banten. Dan bahkan, permintaan dari sang penguasa Banten (kerajaan Pajajaran) kepada pihak Portugis itu tidak segera direspon oleh Portugis. Bahkan, saat itu sang penguasa Banten yang disebut “Sanghyang/Pucuk Umun itu” akhirnya keburu meninggal, dan peristiwa itulah yang akhirnya melemahkan kekuatan militer Banten (kerajaan Pajajaran di Banten). Dan akhirnya Sunan Gunung Jati, terus memanfaatkan kesempatan itu untuk terus mengkonsolidasikan kekuatan serta terus memberikan informasi kepada pasukan Demak agar segera merebut pelabuhan Banten. Akhirnya, di pengujung tahun 1526 M, Sunan Gunung Jati beserta putranya, yakni Sultan Maulana Hasanuddin dan dibantu secara internal dari penguasa Banten, yakni dibantu oleh Ki Jongjo (salah seorang petinggi kota yang menjadi mualaf dan memihak kaum Islam), saat itu berhasil merebut pelabuhan Banten dan Ibu Kota Banten Girang. Bahkan, setahun kemudian, yakni pada 1527 M, Sunan Gunung Jati berserta dengan Faletehan (Fatahillah) akhirnya dapat merebut pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta.

Sunan Gunung Jati kemudian menetap selamanya di Cirebon, sementara Sultan Maulana Hasanuddin, ia menggantikannya menjadi Sultan di Banten. Sultan Hasanudin memerintah selama beberapa tahun di Banten Girang. Namun akhirnya Sunan Gunung Jati memerintahkan untuk memindahkan Istana ke dekat pelabuhan Banten. Dan di tempat itu Sultan Hasanuddin membangun Istana Surosowan, Alun-alun, Pasar, Masjid Agung, dan Masjid di kawasan Pacinan. Sultan Hasanuddin meninggal pada tahun 1570 M, dan digantikan oleh putranya, yaitu Sultan Maulana Yusuf. Sedangkan proses pembangunan wilayah Banten, baik yang dilakukan oleh Sultan Maulana Hasanuddin maupum oleh Sultan Maulana Yusuf, hal itu sebagaimana diceritakan di dalam naskah “Babad Banten”, yakni dengan menerapkan konsep “Gawe kuta buluwarti bata kalawan kawis”. Artinya ; membangun kota dengan menggunakan bata dan karang. Bahkan, Sultan Maulana Yusuf, ia juga sangat menonjol dibidang pembangunan “kanalisasi” atau membangun saluran-saluran air, bendungan, benteng pertahanan, kemudian memperluas serambi Masjid Agung Banten, yang sejak awal dibangun ayahnya. Lebih dari itu, Sultan Maulana Yusuf juga membangun sebuah Masjid di wilayah Kasunyatan. Selain pembangunan fisik, Sultan Maulsna Yusuf juga mengembangkan perkampungan dan pertanian (ladang dan sawah).

Dengan kata lain, bahwa konsentratif pembangunan yang dilakukan oleh Sultan Maulana Yusuf, yakni sebagaimana telah dikemukakan diatas, hal itu memang sangat penting dan menarik, karena Kesultanan Banten saat itu bisa suasembada pangan(ketahanan pangan) dan akhirnya terkosentratif pada proses penyebaran agama Islam. Bahkan, Sultan Maulana Yusuf, secara militeristik dan penguasaan teritorial, telah berhasil meruntuhkan seluruh kekuatan kerajaan Pajajara yang berkedudukan di Pakuan (Bogior saat ini). Bahkan, tiga kali serangan ke Istana kerajaan Pajajaran itu. Hal itu juga dilandasi oleh tekadnya untuk menyebarkan agama Islam ke daerah pedalaman Banten, sehingga sejak saat itu Jawa Barat menjadi daerah penyebaran agama Islam.

Sementara menurut H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud, yaitu di  dalam bukunya berjudul “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa”, motivasi lain dari pihak kesultanan Banten, yakni yang dipimpin oleh Sultan Maulana Yusuf, yang beberapa kali menyerang Istana kerajaan Pakuan-Pajajaran, tidak menutupkemmungkin demi lancarnya penyaluran hasil bumi ke kota pelabuhan, serta demi lancarnya usaha perdagangan di Kesultanan Banten, karena saat itu terindikatif masih terancam dan terkendala oleh sisa-sisa pasukan Pajajaran. Lebih dari itu, untuk terus merangsang semangat tempur para perajurit Kesultanan Banten. Dan keberhasilan Sultan Maulana Yusuf menaklukkan kerajaan Pajajaran juga tidak terpas dari adanya bantuan orang dalam atau dari internal kerajaan Pajajaran itu sendiri. Karena, kemenangan dari pasukan Kesultanan Banten juga dipermudah oleh kerjasama seorang pegawai raja Pajajaran. Setelah Pakuan-Pajajaran jatuh, sementara raja beserta para punggawa dan para pengikutnya, saat itu menghilang dan berada di pengasingan. Dan akhirnya, banyak golongan bangsawan Sunda yang masuk Islam. Dan akhirnya mereka diperbolehkan tetap menyandang pangkat dan gelarnya. Namun setahun setelah penaklukkan Pakuan-Pajajaran, akhirnya Maulana Yusuf meninggal dunia pada 1580 M.

Sementara di dalam Sajarah Banten, bahwa Pucuk Umun, yang digambarkan sebagai Panembahan Banten, sama dengan raja Sunda. Bahkan, dalam sumber-sumber Portugis disebutkan, bahwa Pakuan-Pajajaran tidak lagi dipimpin oleh seorang raja melainkan oleh sejumlah adipsti (Bupati). Dan akhirnya dari pihak Kesultanan Banten dapat memanfaatkan berbagai kelemahan kerajaan Pajajaran.
Sementara dari Kerajaan Demak saat itu terus memanfaatkan merosotnya Pakuan-Pajajaran itu. Sekitar tahun 1520, Kerajaan Demak telah melancarkan beberapa kali serangan militer yang gagal. Ancaman dari Demak itu membuat penguasa Sunda-Banten meminta bantuan Portugis di Malaka, hal itu guna untuk mempertahankan diri. Sebagai imbalannya, Sunda-Banten menawarkan kepada Portugis kemudahan dalam berniaga dan biaya pembangunan benteng pertahanan asalkan menempatkan pasukan di dalamnya. Sementara pembangunan benteng saat itu direncanakan di muara Sungai Cisadane, yaitu di perbatasan Barat kerajaan, untuk menahan serangan pasukan dari Demak. Namun Portugis terlambat menanggapi tawaran itu, dan akhirnya di pengujung tahun 1526, Sultan Hasanuddin bersama dua ribu pasukan Demak dapat merebut pelabuhan Banten dalam beberapa hari pertempuran. Mereka juga menghabisi pelaut kapal jenis brigantin yang akhirnya kapal tersebut kara. Alasan kapal itu dikaramkan, karena khawatir orang Portugis akan membantu Sunda-Banten. Bahkan, dengan bantuan dari dalam, yakni sebagaimana telag diceritakan diatas, yakn8 Ki Jongjo (salah seorang petinggi kota yang menjadi mualaf dan memihak kepada kaum Islam), akhirnya pasukan Demak dapat merebut pelabuhan Banten dan Kota Banten Girang.  Ki Jong dan Agus Jo, mereka merupakan penggawal dari Pakuan-Pajajaran.

Bahkan di dalam buku berjudul “Ragam Pusaka Budaya Banten”, yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, menyebut bahwa Sunan Gunung Jati menjadi penguasa pertama di Banten, tetapi tak mengangkat dirinya sebagai sultan, melainkan diserahkan kepada anaknya, Hasanuddin.

Dan kemudian Hasanuddin menikah dengan putri Sultan Demak Tranggana pada 1526, dan diangkat sebagai Sultan Banten yang pertama pada 1552. Hasanuddin memerintah selama beberapa tahun di Banten Girang. Sementara para pendeta yang telah memeluk Islam disarankan untuk hidup menetap di Gunung Pulasari. Sebab, jika tempat itu sampai kosong akan menjadi tanda berakhirnya Tanah Jawa. Sementara di dalam “Babad Banten” diceritakan bahwa penduduk Banten Girang yang tidak mau masuk Islam, akhirnya mereka melarikan diri ke pegunungan Selatan yang sampai saat ini dihuni oleh keturunan mereka, yaitu orang suku Baduy dalam. Kenyataan ini didukung oleh kebiasaan orang Baduy dalam, yang setiap setahun sekali berziarah ke Banten Girang.

V. Artefak Sejarah Peninggalan Kesultanan Banten (Masjid Agung Banten Dan Keraton Surosowan)

Masjid berfungsi sebagai tempat untuk melakukan ibadat kepada Allah, baik beribadahperorangan maupun secara berjama’ah. Fungsi lainnya dari Mesjid adalah sebagai pusat kebudayaan Islam, yaitu tempat belajar mengaji, menampung kegiatan-kegiatan masyarakat yang berada pada batas-batas ketaqwaan Islam dan berbagai kegiatan lainnya yang berjiwakan Islam. Dalam perkembangan Kesultanan Islam umumnya di Pulau Jawa, bahwa pengaruh dan kekuasaan Sultan atau Raja yang berkuasa telah menggeser fungsi Masjid ke arah fungsi simbolik, sehingga Masjid Kesultanan menampilkan kekuasaan Sultan yang berkuasa. Bahkan, peletakan bangunan Masjid di sekitar Alun-alun Ibukota Kerajaan, dan termasuk keberadaan Masjid Agung Banten yang hingga saat ini berada di kompleks kesultana dan di sebelah Barat Alun-alun Banten. Hal itu dipengaruhi oleh faktor kosmologi yang dianut oleh para Sultan yang berkuasa saat itu, dimana peletakan semua bangunan tersebut merupakan perwujudan konsep makrokosmos yang diterapkan dalam pengaturan tata kota kerajaan. Sentara bentuk dan konstruksi Masjid Agung Banten dipengaruhi oleh bentuk dan konstruksi bangunan dari masa-masa sebelumnya, demikian pula dengan kelengkapan bangunan yang membawa unsur simbolik tertentu. Dalam pemakiannya sebagai bangunan ibadat Islam, unsur-unsur simbolik tersebut dikaitkan dengan ajaran agama Islam. Masuknya bangunan berarsitektur Eropa di tengah-tengah bangunan Masjid Banten yang sangat bergaya tradisional memperlihatkan kekuasaan dari Sultan Banten untuk mewujudkan pengaruh bangsa asing yang ada di dalam dirinya. Tidak dipakainya unsur-unsur hiasan berciri Islam seperti kaligrafi Arab, dan lain-lain (terutama sejak awal didirikannya Masjid Agung Banten), seperti pada interior dan eksterior ruang masjid adalah lebih ditujukan untuk manarik minat para pemeluk baru agama Islam untuk tidak segan-segan datang ke Masjid. Tidak terdapatnya tempat khusus bagi Sultan di dalam Masjid, karena Sultan dan para jama’ah lainnya memiliki derajat yang sama di dalam Masjid. Atau karena Sultan melakukan shalatnya di Masjid Agung tetapi di dalam Masjid yang terdapat di Istana Surosowan. Makam Sultan di dalam kompleks Masjid, merupakan pencerminan pengaruh yang masih kuat dari budaya tradisional sebelum Islam berkembang, dimana bangunan Masjid kuat dari budaya tradisional sebelum Islam berkembang, dimana bangunan Masjid Kesultanan dianggap sebagai bangunan penting. Dengan demikian makam Sultan Babten beserta keluarganya ditempatkan di lingkungan dalam masjid Kesultanan (di sebelah Utara Masjid).

A. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid Agung Banten dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin sekitar tahun 1552-1570 Masehi. Masjid Agung Banten berada di Kawasan Banten Lama. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Banten juga menjadi destinasi wisata religi dan histori bagi umat Islam yang datang bukan hanya dari Banten, tetapi juga dari wilayah Provinsi lainnya. Di Masjid Agung Banten, pengunjung bisa melakukan berbagai macam kegiatan seperti berziarah, menikmati reflikadi arsitektur kuno dan unik di Masjid Agung Banten, serta melihat bukti-bukti bersejarah di Kesultanan Banten.

1. Sejarah
Masjid Agung Banten merupakan situs bersejarah peninggalan Kesultanan Banten. Masjid ini dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin yang merupakan putera Sunan Gunung Jati. Berdasarkan sejarah bahwa Masjid Agung Banten dibangun pada tahun 1552-1570. Bahkan, berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, bahwa Sultan Gunung Jati memerintahkan Sultan Maulana Hasanuddin untuk mencari sebidang tanah yang masih “suci” sebagai tempat pembangunan Kerajaan Banten. Setelah mendapatkan perintah dari sang ayah, Sultan Maulana Hasanuddin kemudian melaksanakan salat dan berdoa sepenuh hati kepada Allah agar diberi petunjuk mengenai tanah yang tepat untuk mendirikan Istana kerajaan dan sekaligus lokasi untuk mendirikan Masjid.

Hingga saat ini para peziarah (para wisatawan) yang datang ke kompleks Kesultanan Banten dan usai sholat di Masjid Agung Banten, biasanya melanjutkan berdoa di makam Sultan Maulana Hasanudin yang berada satu kompleks di kawasan tersebut. Masjid Agung Banten didirikan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin dan putranya, Sultan Maulana Yusuf, pada tahun 1566. Setelah Sultan Maulana Hasanuddin berdoa, diceritakan bahwa secara spontan air laut yang berada di sekitarnya tersibak dan menjadi daratan. Maka di lokasi tersebutlah kemudian didirikan Kesultanan Banten beserta sarana pendukungnya seperti Masjid, Alun-alun, dan Pasar sebagaimana ciri tradisi dari kerajaan Islam di masa lalu. Masjid pertama yang dibangun adalah Masjid Agung Banten Lama yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik dan menjadi simbol kejayaan kerajaan Islam pada masa.

2. Arsitektur bangunan dan Filosofi
Bangunan Masjid Agung Banten memiliki luas 1,3 hektar, sementara luas komplek yang dikelilingi pagar tembok dengan ketinggian sekitar satu meter itu mencapai 2 hektar. Pada sisi tembok timur dan masing-masing terdapat dua buah gapura dibagian utara dan selatan yang letaknya sejajar. Masjid Agung Banten memiliki ciri yang cukup mencolok, yaitu pada bentuk menara masjid yang menyerupai mercusuar. Kala itu, kebanyakan masjid di Nusantara belum memiliki menara karena bukan merupakan tradisi pelengkap masjid di Jawa. Untuk mencapai puncak menara, pengunjung harus menaiki 83 anak tangga melalui lorong yang hanya mampu dilewati satu orang. Dari atas menara tersebut, pengunjung bisa melihat perairan lepas pantai yang hanya berjarak 1,5 kilometer dari lokasi masjid. Perbedaan lainnya adalah letak masjid. Pada umumnya, masjid tua di Pulau Jawa berada di sisi barat, namun Masjid Agung Banten terletak di sisi selatan. Adapun di sebelah utaranya terdapat makam Syarif Maulana Hasanuddin.Tata bangunan Masjid Agung Banten mendapat pengaruh dari tiga arsitek yang memiliki latar belakang berbeda. Arsitek pertama adalah Raden Sepat yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Raden Sepat juga terlibat dalam pembangunan Masjid Agung Demak dan Masjid Ciptarasa Cirebon.

Arsitek kedua berasal dari negeri Cina, yaitu bernama Tjek Ban Tjut. Pada bagian dalam Masjid Agung Banten, arsitek Tjek Ban Tjut, memberikan pengaruh kuat pada bentuk atap Masjid Agung Banten, yaitu bersusun lima, yakni layaknya pagoda Cina. Tjek Ban Tjut memperoleh gelar Pangeran Adiguna sebagai penghargaan atas jasanya dalam membangun masjid. Sedangkan arsitek ketiga adalah seorang Belanda yang kabur dari Batavia ke Banten, yaitu bernama Hendrik Lucaz Cardeei. Arsitek berstatus mualaf tersebut memberikan pengaruh pada bentuk menara Masjid Agung Banten, yang layaknya mercusuar di Negeri Kincir Angin. Hendrik Lucaz pun mendapat gelar kehormatan Pangeran Wiraguna.

Menara tersebut berfungsi sebagai menara pandang atau pengamat ke lepas pantai serta digunakan untuk menyimpan senjata dan amunisi pasukan Banten. Masjid Agung Banten memiliki banyak makna filosofis pada setiap detailnya. Karena ada enam pintu masjid, hal itu menggambarkan rukun iman. Bahkan, pintu masuk masjid sengaja dibuat pendek sehingga memaksa pengunjung untuk merunduk, hal itu sebagai simbol ketundukan kepada Sang Pencipta. Adapun tiang masjid berjumlah24 buah, hal itu sebagai simbol waktu 24 jam.

Elemen unik lainnya adalah umpak dari batu andesit berbentuk buah labu atau buah waluh berukuran besar dan beragam di setiap dasar tiang masjid. Yang berukuran terbesar dengan garis labu terbanyak adalah umpak pada empat tiang soko guru di tengah-tengah ruang shalat. Sedangkan filosofi dari buah labu atau buah waluh, hal itu menggambarkan atau metafor dari huruf qosam (huruf sumpah), di dalam al-qur’an, yaitu kalimat “Wallohu”, yang artinya hanya kepada Allah-lah kita beribadah dan berserah diri. Sementara di bagian depan ruang utama masjid terdapat mimbar besar antik yang penuh motif hias dan kombinasi warna.

3. Mimbar ini dinaungi atap bergaya Cina.
Mihrab yang ada di masjid Agung Banten, dan sekaligus menjadi tempat iman-memimpin shalat justru bertolak belakang dengan mimbar yang sangat menyedot perhatian. Karena Mihrab hama berbentuk ceruk berukuran sangat keci, sempit, dan sederhana. Selain menara, terdapat sebuah konstruksi tembok persegi delapan yang dikenal dengan nama istiwa, bencet atau mizwalah yang digunakan sebagai pengukur waktu dengan memanfaatkan bayangan akibat sinar matahari. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.

4. Wisata Religi
Masjid Agung Banten, merupakan situs wisata religi yang berdiri kokoh sebagai lambang peradaban budaya Islam yang bertahan hingga saat ini. Selain sebagai tempat ibadah, masjid yang mudah dikenali karena bentuk menaranya yang menyerupai mercusuar itu juga menjadi destinasi wisata religi dan histori bagi umat Islam yang datang bukan hanya dari Banten, tetapi juga dari wilayah Provinsi lainnya. Pengunjung dapat melakukan berbagai macam kegiatan di Masjid Agung Banten seperti berziarah ke makam-makam para sultan Banten beserta keluarga yang terdapat di dalamnya, menikmati arsitektur kuno dan unik berupa atap utama masjid dengan bentuk bangunan bersusun lima menyerupai pagoda dan juga terdapat menara di sebelah timur masjid. Biasanya, jelang Ramadhan, terdapat ritual ziarah makam para sultan dan ulama Banten yang dimakamkan di kompleks Masjid Agung Banten. Diantaranya adalah makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya dan keluarganya. Sementara di sisi selatan serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lain sebagainya nya.

B. Keraton Surosowan

1. Urgensi Dari Keratos Surosowan

Keberadaan Keraton dalam suatu kerajaan/kesultanan, dan termasuk kesultanan Banten, memang memegang peranan penting. Karena, Keraton merupakan bangunan inti suatu kerajaan yang berfungsi ganda, yaitu sebagai pusat kerajaan sekaligus sebagai pusat kota. Selain itu, sesuai dengan pandangan kosmologis dan religious magis, keraton dianggap pula sebagai pusat kekuatan gaib yang berpengaruh pada seluruh kehidupan masyarakat. Keraton juga dipandang sebagai lambang kekuasaan raja dan merupakan tiruan (replika) alam semesta. Dengan demikian, apabila raja dianggap sebagai pribadi yang memusatkan kekuatan dan kekuasaannya, maka keraton merupakan institusi pendamping dalam proses pemusatan itu. Keraton tidak hanya dihayati sebagai pusat politik dan budaya, melainkan juga sebagai pusat keramat kerajaan. Salah satu keraton di Indonesia yang memegang peranan penting dalam percaturan sejarah masa lalu Indonesia adalah keraton Surosowan-Banten. Keraton ini merupakan pusat dari kerajaan Banten pada awal abad 16 hingga awal abad ke-19 Masehi. Keraton Surosowan sudah beberapa kali mengalami perubahan. Bahkan,  berdasarkan peta-peta kuno diketahui bahwa pada peta tertua (tahun 1596), Keraton Surosowan digambarkan masih sangat sederhana, yaitu berupa satu bangunan rumah dikelilingi pagar dan beberapa bangunan yang terletak di selatan Alun-alun. Pata-peta tahun 1624 misalnya, bahwa keraton Surosowan sudah digambarkan berupa bangunan berundak dan bertingkat serta dikelilingi rumah-rumah. Gambaran yang hampir sama masih dijumpai pada peta 1726, dimana terlihat bangunan inti keraton memiliki bagian bawah bangunan yang berundak-undak, dan atap yang semakin ke atas makin kecil meruncing, hanya ukuran keraton semakin besar.

Sultan Haji dibantu Belanda, yaitu pada masa pemerintahannya (1672–1687) Keraton Surosowan dibangun kembali di atas puing-puing keraton Sultan Ageng Tirtayasa yang sudah rata dengan tanah tahun 1680–1681. Pada tahun 1808 terjadi perselisihan Sultan fahan di internal kesultanan Banten dengan Belanda. Pada tahun itu juga keraton Surosowan dihancurkan oleh Belanda di bawah pimpinan Daendels. Penghancuran tersebut berlangsung hingga tahun 1832 M. Bahkan, bahan bangunan dari keraton Surosowan itu banyak yang diambil untuk digunakan kembali pada bangunan Belanda lainnya.

Sehingga, keraton Surosowan yang ada sekarang ini merupakan sisa dari sisa-sisa kehancurannya. Dalam perjalanan sejarahnya, keraton Surosowan mengalami pasang surut. Karena, Keraton Surodowan pertama kali dibangun pada masa Sultan Hasanuddin (1552–1570), tetapi kemudian hancur dan dibuat kembali oleh Sultan Haji tahun 1680–1681 M. Pada tahun 1808 M, Keraton Surosowan mengalami kehancuran kembali oleh Belanda. Sejak saat itu, Keraton Surosowan hanya tinggal puing-puingnya saja. Sekarang, sebagian besar sisa-sisa bangunan masih terpendam di dalam tanah, dan hanya sebagian kecil yang sudah dimunculkan lewat beberapa kali ekskavasi yang dilaksanakan oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dan Universitas Indonesia sejak tahun 1967. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa sisa-sisa bangunan yang menarik dan masih dapat diamati antara lain tembok keliling, struktur pondasi bangunan, struktur lantai, saluran air, kolam pemandian, dan sisa bangunan lainnya. Sisa-sisa Keraton Suruosowan yang masih dapat diamati di lapangan saat ini adalah pada bagian tengah keraton, yakni mulai dari dinding Utara hingga dinding Selatan. Sisa-sisa Keraton itu berupa struktur bangunan bagian bawah seperti pondasi, lantai, jalan (gang), saluran, dan bangunan air. Dari sisa-sisa tersebut ada yang masih jelas terlihat bentuknya, namun sebagian besar sudah tidak utuh lagi. Walaupun demikian, temuan ini tetap penting untuk dikaji dalam rangka untuk mengungkapkan bentuk, penataan, dan fungsi ruang di dalam Keraton Surosowan.

2. Fase Pembangunan Keaton Surosowan

Keraton Surosowan sudah beberapa kali mengalami perubahan. Berdasarkan peta-peta kuno diketahui bahwa pada peta tertua (1596), keraton Surosowan digambarkan masih sangat sederhana berupa satu bangunan rumah dikelilingi pagar dan beberapa bangunan yang terletak di selatan alun-alun. Pata peta 1624, keraton Surosowan sudah digambarkan berupa bangunan berundak dan bertingkat serta dikelilingi rumah-rumah. Gambaran yang hampir sama masih dijumpai pada peta 1726, dimana terlihat bangunan inti keraton memiliki bagian bawah bangunan yang  berundak-undak, dan atap yang semakin ke atas makin kecil meruncing, hanya ukuran keraton semakin besar. Pada masa pemerintahanSultan Haji (1672–1687) keraton ini dibangun kembali di atas puing-puing keraton Sultan Ageng Tirtayasa yang sudah rata dengan tanah tahun 1680–1681. Pada tahun 1808 terjadi perselisihan Sultan Banten dengan Belanda. Pada tahun itu keraton Surosowan dihancurkan oleh Belanda di bawah pimpinan Daendels. Penghancuran tersebut berlangsung hingga tahun 1832. Bahan bangunan dari keraton Surosowan banyak diambil untuk digunakan kembali pada bangunan Belanda lainnya. Sehingga, keraton Surosowan yang ada sekarang ini merupakan sisa dari sisa-sisa kehancurannya. Sisa-sisa struktur bangunan keraton Surosowan baru berhasil dimunculkan lewat serangkaian penelitian arkeologi pada bagian tengah keraton. Sementara itu, sisi sebelah barat dan timur bagian dalam keraton masih berupa gundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan. Dari struktur dinding juga diketahui terdapat beberapa tipe, umumnya adalah berupa susunan bata utuh sedemikian rupa sehingga dari sisi luar dinding terlihat: lapis pertama berupa susunan sisi tebal-panjang bata (strek), lapis kedua berupa susunan sisi tebal-lebar bata (kop), lapis ketiga kembali sama seperti lapis pertama, lapis keempat sama dengan lapis kedua, dan seterusnya.

Sementara itu, dari struktur lantai diketahui bahwa digunakan dua bahan yaitu ubin (untuk ruang yang penting) dan bata (untuk ruang yang kurang penting dan jalan/gang). Dari analisis struktur bangunan juga diketahui bahwa Keraton Surosowan yang tampak sekarang ini juga dibangun secara bertahap.

Tahapan itu terlihat pada gejala penambahan ruang, penutupan struktur untuk peninggian lantai.Dari analisis tata letak bangunan, khususnya struktur bangunan di dalam komplek keraton, diperoleh informasi terdapat : kediaman sultan, bangunan untuk istri dan kerabat keraton, bangunan terbuka dengan tiang dan permadani, Roro Denok (kolam dan bale kambang), kolam Pancuran Mas, Siti luhur, Made bahan, Made mundu, Made gayam, kandang kuda, dan tempat kereta kuda. Secara keseluruhan, berdasarkan peta tahun 1900-an, bahwa tata letak keraton Surosowan berbeda dengan keraton Cirebon,Yogyakarta dan Surakarta. Jika pada keraton di Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta terbagi atas tiga halaman, maka Keraton Surosowan secara garis besar hanya memiliki dua halaman (di luar dan di dalam benteng). Di dalam benteng terdapat (a) Istana Sultan, (b) Kolam Roro Denok, (c) Datulaya, (d) Kolam Pancuran Mas, (e) Gerbang Utara, dan (f) gerbang Timur. Sementara di luar benteng terdapat (a) Alun-alun, (b) Watu Gilang, (c) Mesjid Agung Banten, (d) Bangunan Tiyamah, (e) Srimanganti, (f) Meriam Ki Amuk, dan (g) Baledana.

Sementara itu, berdasarkan analisis hubungan lokasional dan fungsional diketahui bahwa semua struktur bangunan yang tampak sekarang saling berhubungan dan memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Bangunan di dalam benteng sebelah kanan/barat (sektor A) berkaitan dengan bangunan persenjataan dan pertahanan. Bangunan di depan gerbang sebagai bangunan Utama “kantor” dan aktivitas sultan dan sebagai bangunan tenaga pendukung atau pelayan kerajaan, serta sebagai tempat kediaman kerabat sultan. Di sebelah Timur sektor B, terdapat kediaman Sultan dan taman kolam Roro Denok dengan bale kambangnya di depannya. Bangunan-bangunan pada sisi Selatan Keraton berkaitan dengan penampungan air bersih, pemandian, dan bak pengaturan air kotor, serta sebagai bangunan “karyawan” Keraton.
Mantap
Hatur nuhun pak
Segera saya koordinasikan dengan redaksi supaya secepatnya dipublish
Oh ia pa sekjen
Mohon maaf pa Sekjen saya ada acara yang tidak bisa sy tinggalkan. Intinya saya untuk acara besok ngikut pa Sekjen aja. 🙏🙏🙏🙏👏👏👏👏👏
oke pak Adung
punten artikel bapak belum terbit admin bantenologinya sedang sakit
Ia pa Sekjen, saya mohon maaf pa. Sy ikut pa sekjen aja.
siap pak
🙏🙏🙏👏👏👏
Assalamu’alaikum
Mohon maaf sebelumnya pa Sekjen, nanti di struktur kepengurusan ICMI Orwil Banten yang baru, nanti saya ikut pa Sekjen saja, mau tetep ikut dibidang Litbang dan Riset pa Sekjen.
👍👏👏👏🙏🙏🙏💪💪💪
‘alaikumsalam siap pak
Ini besok diterbitkan ya pak di web Bantenologi soalnya adminnya baru masuk besok
Oh ia pa sekjen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *