Bantenologi

Mengkaji Tradisi, Membangun Jati Diri

Batu Gilang Sriman Sriwacana Dan Berakhirnya Masa Kerajaan Pajajaran (Bagian II)

Oleh: Adung Abdul Haris (Pengurus ICMI Orwil Banten)

III. Asal-Usul Batu Gilang Palangka Sriman Sriwana Dan Berakhirnya Kerajaan Pajajaran

Berakhirnya zaman kerajaan Pajajaran (1482 – 1579 M), hal itu ditandai dengan diboyongnya batu Palangka Sriman Sriwacana dari Pakuan-Pajajaran ke Surasowan, Banten, yakni oleh pasukan Sultan Maulana Yusuf. Batu tersebut di boyong ke Banten karena tradisi politik saat itu mengharuskan demikian. Pertama, dengan diboyongnya Palangka tersebut, akhirnya di internal kerajaan  Pakuan-Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan seorang raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Sultan Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya memang puteri dari Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Sementara mengenai asal-usul dari Palangka Sriman Sriwacana atau Batu Gilang itu, sebagaimana dikisahkan di dalam Carita Parahiyangan, “Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji d i Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata”. Artinya, Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan-Pajajaran yang bersemayam di Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu Istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata.

Sedangkan secara etimologis (bahasa) bahwa makna kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti tahta. Dalam hal ini adalah tahta nobat, yaitu tempat duduk khusus yang hanya digunakan untuk upacara penobatan seorang raja. Di atas Palangka yang berada di Kabuyutan itulah seorang calon raja Pajajaran diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Sesuai dengan tradisi, bahwa tahta itu terbuat dari batu dan digosok sehingga halus dan mengkilap. Batu tahta seperti itu oleh masyarakat biasanya disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang, apabila dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa. Sedangkan Batu Gilang Palangka Sriman Sriwacana sendiri hingga saat ini masih bisa kita saksikan di depan bekas Keraton Surasowan Banten. Karena bentuknya yang mengkilap, maka masyarakat Banten menyebutnya Watu Gigilang, yang berarti Batu yang mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Sementara dalam konteks sejarahnya, bahwa setelah serangan ketiga yang dilancarkan oleh Kesultanan Banten ke Istana kerajasn Pajajaran, akhirnya membuat tamat riwayat Kerajaan Pakuan-Pajajaran. Dengan kata lain, di akhir masa Kerajaan Pajajaran ini ditandai dengan diboyingnya atau pemindahakannya Batu Gilang yang merupakan simbol dari kerajaan Pajajaran saat bertahta. Namun dengan diboyongnya Batu Gilang ke Surosowan-Banten, hal itu menandakan tamatnya riwayat Kerajaan Pajajaran. Pemindahan batu tersebut dilakukan oleh Sultan Maulana Yusuf, yang telah melakukan ekspansi ke Ibu kota Pakuan-Pajajaran. Sementara kisah pemindahan batu Palangka tersebut sebagaimana dijelaskan di dalam buku berjudul “Hitam Putih Pajajaran : Dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran”. Buku tersebut karya dari Fery Taufiq El Jaquenne. Di dalam buku tersebut dijelaskan tentang proses dipindahkannya Batu Gilang itu oleh Sultan Maulana Yusuf. Sementara istilah batu Palangka sendiri secara umum memiliki arti tempat duduk, yang dalam konteks bahasa Sunda berarti pangcalikan, dan secara kontekstual bagi Kerajaan Pajajaran adalah tahta (kedudukan). Dan tahta tersebut melambangkan tempat duduk khusus, yang diperkenankan ketika pada upacara penobatan seorang raja. Dan di atas Palangka itulah, calon seorang raja diberkati dengan berbagai prosesi upacara oleh seorang pendeta tertinggi. Sedangkan tempat Palangka itu sendiri ketika saat itu berada di kabuyutan kerajaan Pajajaran, dan bukan di dalam Istana. Bahkan, sesuai dengan budaya Kerajaan Pajajaran, maka tahta tersebut dibuat dari batu dan diasah hingga halus mengkilap. Kemudian diberi bahan tertentu yang fungsinya menjadikan batu itu serasa memiliki kesakralan tersendiri. Sementara masyarakat Sunda menyebut batu tersebut sebagai batu pangcalikan atau batu ranjang.

Sementara di wilayah Banten sendiri hingga saat ini ada yang disebut batu ranjang, dan keberadaan batu tersebut hingga saat ini berlokasi di Desa Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang-Banten.

Watu Gilang atau Watu gigilang atau lengkapnya Watu Gilang Sriman Sriwicana adalah batu andesit berbentuk persegi panjang, yang berukuran sekitar 190 x 121 centimeter dan tebal 16,5 centimeter. Adapun letak batu tersebut saat ini berada tidak jauh dari Masjid Agung Banten dan di dekat Keraton Surosowan, tepatnya di wilayah Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Watu (Batu) yang telah menjadi benda cagar budaya ini, dalam konteks perjalanan sejarahnya, memang ketika zaman dulu merupakan benda sakral karena menjadi tempat penobatan para raja atau para sultan Banten.

Namun ada dua versi mengenai asal-usul Watu Gilang ini. Versi pertama menurut salah seorang sejarawan, yajni Claude Guillot, bahwa saat Sultan Maulana Hasanudin berhasil menaklukkan Banten Girang pada tahum 1526 M, akhirnya Sunan Gunung Jati memerintahkan Sultan Maulana Hasanuddin untuk mendirikan sebuah Kota baru di tepi pantai. Sementara di lokasi tersebut ada seorang resi bernama Betara Guru Jampang yang sedang bertapa di atas sebuah batu. Dan batu bekas pertapaan Betara Guru Jampang itu diberi nama Watu Gilang. Dan Watu Gilang itu akhirnya menjadi tempat penobatan Maulana Hasanudin dan raja-raja penerusnya.

Sedangkan versi kedua menyebutkan, bahwa setelah Kerajaan Pajajaran ditaklukan oleh Kesultanan Banten pada tahun 1526 M, yakni sebagaimana telah dijelaskan di bagian atas, akhirnya batu tempat penobatan para raja Pajajaran yang dinamakan Batu Gilang Palangka Sriman Sriwacana itu, kemudian diboyong dari Istana Pakuan-Pajajaran ke Keraton Surosowan-Banten oleh Sultan Maulana Yusuf. Alasannya, karena batu itu tidak akan digunakan lagi untuk prosesi penobatan raja baru di Kerajaan Pajajaran dari trah yang telah takluk. Karena Sultan Maulana Yusuf yang mengklaim sebagai penerusnya (buyut perempuannya merupakan putri dari Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

 

Namun terlepas dari kedua versi tersebut, yang jelas Watu Gilang pernah menjadi benda sakral di Kesultanan Banten. Ia tidak boleh dipidahtempatkan karena dipercaya akan menyebabkan keruntuhan Kerajaan atau Kesultanan Banten. Namun, seiring dengan perjalanan waktu dan dinamika zaman yang terjadi, akhirnya peran Watu Gilang itu mulai memudar alias tidak lagi disakralkan. Hal itu dimulai ketika Kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa, sekitar tahun 1596 M, bersama para penasihatnya, yang mengambil keputusan (melantik Sultan) bukan lagi di Watu Gilang melainkan di lokasi lain yang bernama Darpragi. Saat itu, walaupun Batu Gilang itu masih berada di tempat semula, tetapi fungsi Watu Gilang itu hanya menjadi simbol saja, yakni akan kejayaan Banten dumasa lalu. Dan hingga saat ini oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten, maka Watu Gilang itu telah dijadikan sebagai benda cagar budaya. Dan di Sekelilingnya telah dibuatkan pagar besi dan papan nama yang berisi penjelasan tentang asal-usul batu tersebut.

Sementara menurut Babad Banten, bahwa Watu Gilang itu kerapkali dipergunakan sebagai tempat pentahbisan atau penobatan raja-raja di Kesultanan Banten. Hal itu sebagaimana dijelaskan di dalam Babad Banten pupuh XVIII yang menyebutkan bahwa Maulana Hasanuddin, yakni sang raja pertama di Kesultanan Banten mempunyai sebuah batu yang besar dan rata, yang diduduki Batara Guru Jampang ketika melakukan tapa, ia tidak bergerak dalam jangka waktu yang sangat lama, begitu lamanya tidak bergerak, akhirnya ketunya atau ikat kepala Betara Guru Jampang itu, dijadikan sarang burung oleh burung-burung emprit (pipit). Cetita tersebut sebagaimana dijelaskan juga oleh Dr. Husein Djajadiningrat, yakni di dalam bukunya yang berjudul “Tinjauan Kritis Terhadap Sejarah Banten”, terutama di halaman 35-36 di dalam buku sebagaimana judul diatas.

Sementara dalam Cerita Parahyangan disebutkan juga bahwa Batu Gilang dapat dihubungkan dengan batu Sitinggil. Sedangkan Batu Siti Hinggil umumnya ada di keraton-keraton Jawa. Dan Batu Hinggil itu merupakan takhta raja yang diduduki baginda raja pada saat maseban di hadapan para punggawanya. Sementara Batu Sriman Sriwacana, sebagaimana telah dijelaskan diatas, merupakan penanda kedudukan Sultan Maulana Hasanuddin dari Banten yang secara anumerta dijadikan usurpator (pengambil kekuasaan) Kerajaan Sunda, yakni dengan memindahkan Watu Gigilang dari Pakuan-Pajajaran ke Banten.

Bahkan, di lokasi dekat Watu Gigilang itu (di sekitar Istana Pakuan Pajajaran), terdapat pula batu lingga, namun batu tersebut tidak dibawa ke Banten karena dianggap ”kebudan”, yakni yang tidak sesuai dengan agama Islam. Proses pemindahan Watu Gilang dari bekas pusat kerajaan Pajajaran yang hinduistis ke pusat kerajaan Banten yang Islam, hal itu dianggap secara geneologis-sakralistik maupun kharismatiknya, bahwa raja-raja Pakuan-Pajajaran turun ke raja-raja Banten.

Bahkan, kalau kita coba kritisi ketika penaklukan Banten Girang dan Kerajaan Pajajaran yang sama-sama terjadi di tahun 1526 M itu, bisa jadi dua cerita tentang Watu Gilang sebagainana telah diungkapkan diatas itu, memang merupakan satu rangkaian. Karena, Banten Girang yang dulu di bawah penguasaan Kerajaan Pajajaran, akhirnya berhasil dikuasai dan diduduki oleh Kesultanan Banten, yakni setelah Ki Jongjo, salah satu petingginya masuk Islam dan bergabung dengan Maulana Hasanudin.

Bahkan menurut sejarawan Claude Guillot, bahwa batu sejenis Watu Gilang itu sebetulnya sudah digunakan juga dalam tradisi kerajaan-kerajaan di Surakarta dan Yogyakarta, yaitu dengan sebutan Sela Gilang. Dalam bahasa Jawa, sela adalah padanan kromo dari watu. Sementara Sela Gilang di Surakarta, dianggap sebagai takhta kuno Kerajaan Majapahit. Bahkan, ketika diadakan proses pemindahan ibu kota Majapahit dari Kartasura ke Surakarta tahun 1746, maka benda satu-satunya yang dibawa adalah Sela Gilang dan Bangsal Pangrawit yang merupakan penutupnya. Lebih dari itu, di situs tertua Keraton Mataram misalnya, yakni Keraton Panembahan Senopati, tenyata Sela Gilang itu ditempatkan di sebelah pohon beringin.

Namun seiring perjalanan waktu, akhirnya peran Watu Gilang ini tak lagi dianggap sakralistik dan dominan. Bahkan, sedikit demi sedikit Batu Gilang ini mulai memudar dan tergantikan oleh sikap politik yang praktis-pragmatis, dan Watu Gilang pun hanya menjadi suatu simbol atau lambang saja, yakni yang menggambarkan tentang kenangan masa lalu.

Namun hingga saat ini di internal Kesultanan Banten, bahwa Batu Gilang yang konon dulu menjadi tempat penobatan raja atau Sultan Banten itu, saat ini masih ada dan menjadi salah satu benda cagar budaya di Kesultanan Banten. Dan batu tersebut berada di sebelah Utara di sisi kiri luar Keraton Surosowan. Sementara di dalam catatan data base cagar budaya di Kota Serang, bahwa Watu Gilang adalah batu berbentuk empat persegi panjang berukuran 190 centimeter (cm), lebar 121 cm, dan tebal 16,5 cm. Bahkan dalam konteks sejarahnya, dengan diboyongnya Watu Gilang ke Surosowan-Banten, akhirnya pihak kerajaan Pajajaran tidak lagi bisa mengangkat raja baru. Dengan demikian habislah riwayat kerajaan Pajajaran (tahun 1579). Setelah Pakuan-Pajajaran dikuasai oleh Kesultanan Banten, malah Sultan Maulana Yusuf, ia tidak lagi menempatkan pemerintahan di bekas pusat kerajaan Pajajaran, namun bekas Istana Pajajaran itu malah mejadi daerah tak bertuan kurang lebih selama 100 tahun. Namun, Sultan Maulana Yusuf telah mampu melenyapkan Kerajaan Hindu Terakhir di Tanah Sunda. Dan  serangan demi serangan dari Kesultanan Banten,  membuat Kerajaan Pajajaran benar-benar luluh lantah. Dan sang raja terakhir dari kerajaan Pajajaran, yakni Prabu Ragamulya atau Suryakancana, atau yang lebih dikenal sang Pucuk Umun itu, akhirnya ia menjadi panembahani Pulosari.

IV. Keberadaan Para Punggawa dan Rakyat Kerajaan Pajajara

Raja terakhir dari kerajaan Pajajaran adalah raja Raga Mulya (1567-1579 M). Bahkan di dalam sejarah Sunda dikenal sebagai raja Pajajaran yang terakhir. Sementara menurut penulis Carita Parahyangan, ia memberikan nama Nusa Mulya kepada raja terakhir Pajajaran itu. Sementara di dalam naskah-naskah Wangsakerta ia disebut Raga Mulya alias Prabu Suryakencana. Raja ini tidak lagi berkedudukan di Pakuan sebagaimana raja Pajajaran lainnya, tetapi di Pulosari, Pandeglang. Oleh karena itu, ia disebut Pucuk Umun Panembahan Pulosari.

 

  1. Raja di Pengungsian

Pasca penyerangan Banten ketika di masa raja Nilakendra, Pakuan-Pajajaran sudah tidak lagi berfungsi sebagai ibukota, bahkan telah ditinggalkan raja Nilakendra dan para kerabat keraton, yang akhirnya mereka mengungsi ke berbagai wilayah. Pakuan-Pajajaran kemudian diurus oleh para pengawal Istana dan oleh para penduduk, dan mampu bertahan sampai dua belas tahun, ketika itu Banten melakukan penyerangan untuk yang kedua kalinya dan memboyong baru Sriman Sruwacana, yakni tempat dinobatkannya seorang raja Pakuan-Pajajaran (raja Sunda). Bahkan, ada sebagian penduduk yang mengungsi ke wilayah pantai Selatan, yang akhirnya membuat  pemukiman baru di daerah Cisolok dan Bayah (mungkin juga komunitas saat ini berada di daerah Ciptarasa dan Ciptagelar). Tentang proses pelarian dari keluarga Keraton kearah Selatan, hal itu sebagaimana dikisahkan pada awal abad yang lalu oleh Aki Baju Rambeng, yaitu seorang juru Pantun dari Bogor selatan, dalam judul Dadap Malang Sisi Cimandiri, yaitu yang mengetengahkan tentang keteguhan seorang perwira Sunda, tokoh tersebut bernama Raden Rakeyan Kalang Sunda. Selain itu, muncul pula legenda tentang Uga Wangsit Siliwangi, yang diyakini diamanatkan oleh Prabu Siliwangi di daerah tersebut, padahal Prabu Siliwangi, ia hidup di zaman Pajajaran masih berdiri dan Prabu Siliwangi masih mampu memerintah kerajaan Pajajaran.

Rombongan lainnya mengungsi menuju ke arah Timur, diantaranya terdapat pembesar kerajaan, seperti Senapati Jayaprakosa atau Sanghyang Hawu, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Ketika meloloskan diri dari Pakuan, Jayaperkosa, ia memboyong  Mahkota dan atribut raja Pajajaran, yang disebut “Sanghiyang Pake” ke Sumedang Larang, mungkin “Sanghiyang Pake itu” akhirnya ia tertinggal, yakni ketika raja Nilakendra meloloskan diri dari Pakuan-Pajajaran. Bahkan, di dalam tradisi raja-raja Pajajaran, bahwa “Sanghiyang pake” dan “Batu Gilang” atau “Palangka” batu

sriman sriwacana dianggapsangat  penting untuk menunjukan legalitas seorang raja. Bahkan, ada juga sebagian penduduk Pakuan Pajajaran yang mengungsi ke arah Barat daya, tepatnya di Lereng Gunung Pulosari, Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Rombongan tersebut dipimpin oleh salah seorang putra raja Nilakendra, dan sekaligus ia bersedia untuk meneruskan tahta kerajaan Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana. Menurut legenda, bahwa di Kadu Hejo, yakni di daerah Pulosari (tempat situs Purbakala) terdapat peninggalan seorang raja tanpa membawa mahkota. Ia memerintah sebagai raja pendeta, tetapi akhirnya dihancurkan oleh Pasukan Banten yang menyerang kerajaan itu. Hal itu, sebagaimana dijelaskan di dalam buku berjudul “Sejarah Bogor Bagian I”. Buku tersebut diterbitkan oleh Pemda Bogor tahun 1983.

Ketiadaan pakaian dan perangkat raja sebagaimana telah diungkapkan diatas, hal itu dapat pula dikaitkan dengan cerita lain. Dalam kisahnya disebutkan bahwa mahkota dan pakain kerajaan tersebut diboyong oleh Jaya Perkosa dari Pakuan dan adik-adiknya, yakni Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot, kemudian diserahkan untuk digunakan Geusan Ulun pada saat pelantikannya. Dengan penggunaan perangkat tersebut maka Geusan Ulun dianggap syah sebagai pewaris tahta Sunda (Pakuan-Pajajaran).

  1. Serangan Banten kedua

Pada tanggal 12 bagian terang bulan Badra tahun 1490 Saka, yakni bertepatan dengan tanggal 19 September 1568 Masehi, saat itu  Susuhunan Jati atau Sunan Gunung Jati Cirebon wafat. Pemerintahan Cirebon diwalikan kepada Fadilah Khan, kemudian dua tahun sesudahnya atau pada tahun 1570, Fadilah Khan wafat, maka tahta Cirebon selanjutnya dilanjutkan oleh Panembahan Ratu. Namun lebih banyak mengkonsentrasikan perhatiannya ke Pajang, karena termasuk salah satu murid sekaligus menantu dari Adiwijaya. Demikian juga di Banten, pada tahun 1570 M, akhirnya Panembahan Hasanudin juga wafat. Tahta Banten di lanjutkan oleh putranya, yakni Panembahan Yusuf. Ia sangat berperan dalam menentukan hubungan selanjutnya dengan masalah Pajajaran. Karena para penandatangan perdamaian Cirebon dengan Pajajaran itu sudah pada wafat, oleh karenanya ia (Maulana Yusuf) tidak lagi merasa harus menghormati perjanjian tersebut. Awalnya Maulana Yusuf tertarik untuk menaklukan Palembang, namun ia merasa kurang puas karena Pakuan belum seluruhnya dapat dilumpuhkan. Padahal telah dikepung dan beberapa kali diserang, namun benteng Pakuan masih belum dapat diterobos. Padal ketika itu Pakuan-Pajajaran sudah ditinggalkan rajanya, namun masih ada penduduk bersama pasukan yang ditugaskan untuk mempertahan kerajaan Pakuan Pajajaran. Untuk melakukan penyerangan, akhirnya Sultan Maulana Yusuf, ia memerlukan persiapan yang matang, antara lain untuk mempersiapkan pasukan yang lebih lengkap dan menebar para telik sandi untuk mengetahui kelemahan penjagaan benteng. Penyerangan akhirnya dilakukan pada tahun 1579 dengan menggabungkan dua pasukan besar, yakni Banten dan Cirebon. Hal itu, sebagaimana diceritakan di dalam Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I, di halaman 219. :

“Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala”. Artinya; Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka” bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 M. Bahkan,

di dalam Babad Banten (Sejarah Banten) diceritakan tentang keberangkatan pasukan Banten ketika mau melakukan penyerangan ke Pakuan-Pajajaran, hal itu sebagaimana di dalam Pupuh Kinanti : “Nalika kesah punika/ing sasih Muharam singgih/wimbaning sasih lapisan/dinten ahad tahun alif/punika sakalanya/bumi rusak rekeih iki (Waktu keberangkatan itu/terjadi bulan Muharam/tepat pada awal bulan/hari Ahad tahun Alif/inilah tahun Sakanya/satu lima kosong satu”.

 

Kejatuhan benteng pakuan diketahui dari naskah Banten. Naskah tersebut memberitakan, bahwa benteng kota Pakuan baru dapat dibobol setelah dibuka dari dalam oleh komandan kawal benteng Pakuan yang merasa sakit hati, karena tidak memperoleh kenaikan pangkat. Ia adalah saudara Ki Jongjo seorang kepercayaan Panembahan Yusuf.

Pada tengah malam buta, setelah pintu gerbang Pakuan dibukan dari dalam Ki Jongjo bersama pasukan khusus menyelinap ke dalam kota. Kisah itu mungkin benar atau hanya rekaan, namun cerita ini cukup menggambarkan, bahwa betapa kuatnya pertahanan Benteng Pakuan-Pajajaran yang dibuat oleh Sri Baduga, bahkan setelah ditinggalkan oleh rajanya selama 12 tahun, pasukan Banten dan Cirebon masih perlu menggunakan cara khusus dan halus, yakni untuk menembus benteng itu. Nasib Pakuan-Pajajaran beserta para penghuninya setelah dihancurkan oleh pasukan Banten dan Cirebon, akhirnya tidak terkabarkan beritanya, termasuk dari naskah-naskah tua. Namun pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Sersan Scipio, pada tanggal 1 September 1687 menemukan sisa-sisa keraton tersebut, terutama tempat duduk yang ditinggikan (sitinggil) raja Pajajaran, masih dikerumuni dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau. Dari sinilah kemungkinan muncul mitos, bahwa prajurit Pajajaran berubah menjadi harimau.

Berakhirnya zaman kerajaan Pajajaran (1482-1579), ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Sultan Maulana Yusuf.  Batu tersebut di boyong ke Banten karena tradisi politik saat itu mengharuskan demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi). Sementara tentang keberadaan batu palangka, hal itu sebagaimana dikisahkan di dalam Carita Parahiyangan :

“Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji d i Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata”. Artinya, Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata.

 

Sedangkan kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti Tahta. Dalam hal ini adalah Tahta Nobat, yaitu tempat duduk khusus yang hanya digunakan pada upacara penobatan. Di atas Palangka yang berada di Kabuyutan itulah seorang calon raja diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Sesuai dengan tradisi, tahta itu terbuat dari batu dan digosok sehingga halus dan mengkilap. Batu Tahta seperti ini oleh penduduk biasanya disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang, bila dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa. Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan Banten. Karena bentuknya yang mengkilap, orang Banten menyebutnya Watu Gigilang, yang berarti Batu yang mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

 

  1. Berakhir di Pulasari

 

Pasca penghancuran Pakuan kemudian Sultan Maulana Yusuf mengarahkan serangannya ke Pulasari. Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya yang setia berupaya melawan sekuat tenaga. Namun pada akhirnya Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya tersudutkan di Pulosari dan terkenal dengan panembahan Pulosari.

V. Penutup

Pada posisi raja terakhir di kerajaan Pajajaran, yakni ketika dimasa raja Ragamulya (Pucuk Umun) memang dinamika maupun realitas sosial ekonomi di kalangan masyarakat kerajaan Pajajaran, sudah amat sangat jauh berbeda dengan apa yabg terjadi ketika dimasa kepimpinan Sri Baduga Maharaja ata Peabu Siliwangi. Bahkan,  berdasarkan sumber naskah Carita Parahyangan, tidak semua raja Pajajaran yang ketika dimasa kepememimpinnya itu berhasil dan bisa membawa kejayaan. Namun setidaknya, ada satu raja yang membawa harum nama Kerajaan Pajaran utamanya ketika dimasa keemasannya, yaitu Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Ia berhasil memerintah kerajaan selama 39 tahun yang pusatnya saat itu berada di Pakuan Pajajaran. Ia juga berhasil membawa kerajaan Pajajaran ke puncak masa kejayaannya, karena setia kepada keaslian dan kebiasaan leluhur. Bahkan tidak hanya itu, ia juga membebaskan beberapa desa dari tuntutan membayar pajak bagi kepentingan keagamaan. Langkahnya telah mencerminkan perhatiannya pada keagamaan dan tradisi leluhur. Pada masanya, hak itu menjadi perhatian utama dalam menentukan kebijakan pemerintahan. Prasasti Batutulis bahkan telah mengungkapkan upaya Sri Baduga untuk melaksanakan pembangunan ibu kota. Bahkan jejak-jejaknya bisa dilacak hingga saat ini. Sri Baduga membuat hutan-hutan lindung, mengeraskan jalanan dengan batuan, mendirikan gunung-gunungan, membuat telaga yang diberi nama Telaga Rena Mahawijaya, dan membuat parit di sekitar Pakuan Pajajaran.

 

Menurut seorang sejarawan berkebangsaan Portugis, yakni Tome Pires, bahwa kerajaan Sunda memiliki sistem pemerintahan kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Takhta kerajaan diberikan secara turun temurun kepada para keturunannya. Namun, jika si raja tidak memiliki keturunan atau anak, maka yang akan menggantikannya adalah salah seorang raja yang dipilih berdasarkan hasil pemilihan. Untuk kehidupan ekonomi kerajaan ini, para pedagangnya sudah bisa melakukan transaksi perdagangan dengan para pedagang asing dari kerajaan lainnya seperti Sumatra, Jawa Tengah, Makasar, dan Malaka. Kegiatan perdagangan tersebut didukung dengan adanya pelabuhan-pelabuhan milik Kerajaan Sunda. Sedangkan komoditas yang diperdagangkan saat itu yaitu lada, hewan ternak, sayuran, buah-buahan, dan beras. Selain dari sektor perdagangan, mereka juga mengembangkan sektor perdagangan seperti berladang. Sementara watak masyarakat Sunda yang senang berpindah ini terlihat dari kegiatan berladangnya. Untuk itulah, mengapa ibu kota kerajaannya juga seringkali berpindah-pindah. Sementara susunan masyarakat berdasarkan Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, kelompok ekonomi mereka terbagi menjadi :

Pahuma (petani ladang)

Penggembala, Pemungut Pajak, Mantri, Pandai besi, Bhayangkara dan prajurit, Kelompok, Cendekiawan dan rohani dan lain sebagainya.  Apa yang telah penulis ungkapkan diatas mudah-mudah dapat menginsfirasi, karena mencoba mengungkapkan tentang eksistensi kerajaan Pajajaran, yakni tentang berbagai peninggalannya, letak (geografis), prasasti, pendiri, raja, masa kejayaan, silsilah kerajaan, sistem pemerintahan, kehidupan sosial ekonomi, politik, dan masa keruntuhan. (habis).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *