Bantenologi

Mengkaji Tradisi, Membangun Jati Diri

Museum Benteng Heritage Tangerang, Saksi Bisu Peradaban Tionghoa

Rumah China yang saat ini dijadikan sebagai Museum Benteng Heritage menyimpan beragam koleksi masa lampau di Kota Tangerang (Maulida Fitria, SPI/UIN Jakarta)

 

Bantenologi – Berkunjung ke Kota Tangerang tak lengkap rasanya kalo kamu engga mampir ke rumah kuno yang dibangun puluhan abad lalu yang saat ini rumah tersebut sudah alih fungsi menjadi museum Benteng Heritage.

 

Museum Benteng Heritage terletak di Kawasan Pasar Lama, Tangerang. Letaknya tidak jauh dari sungai Cisadane dan Stasiun Tangerang. Pasar Lama merupakan pasar tradisional tertua yang pernah ada dan merupakan cikal bakal Kota Tangerang.

 

Lokasi museum juga berdekatan dengan Klenteng Boen Tek Bio. Lebih asyik lagi jika sobat Banten berjalan kaki sambil menikmati suasana Tangerang tempo dulu karena di lokasi sekitar terdapat rumah-rumah kuno khas China dan juga beragam kuliner disepanjang jalan.

 

Tak jauh berjalan kaki dari Klenteng Boen Tek Bio, kamu akan melihat museum Benteng Heritage yang memiliki gaya khas China. Museum ini terdiri dari dua lantai yang masih kokoh berdiri dan dibangun menggunakan kayu serta tembok yang masih mempertahankan keasliannya. Tarif masuk untuk berkeliling ke museum ini Rp 35 ribu rupiah.

 

Saat memasuki Museum Benteng Heritage, pengunjung akan disajikan informasi-informasi yang berhubungan dengan museum maupun masyarakat Cina Benteng. Tour guide juga menjelaskan mengenai sejarah dibangunnya museum, asal-muasal Cina Benteng dari mulai leluhur, pernikahan, akulturasi budaya dan perkembangan masyarakat.

 

Saat berada di museum, terdapat hal yang harus diperhatikan yaitu dilarang untuk memotret atau mengambil video saat berada di museum kecuali saat berada di lantai satu.

Berdasarkan informasi dari Tour Guide, Michell museum benteng heritage dulunya adalah sebuah rumah tua yang diyakini milik masyarakat Tionghoa, kemudian rumah tersebut dibeli oleh Udaya halim dan direstorasi menjadi museum.

 

Udaya Halim merupakan warga yang tinggal di sekitar lokasi tersebut, dia tertarik dengan sejarah dan pelestariannya sehingga Uday membeli rumah tersebut dan dijadikan sebagai museum. Alih fungsi rumah China menjadi museum benteng heritage dilakukan Uday untuk melestarikan budaya Tionghoa.

 

“Koleksi Museum Benteng Heritage tidak hanya berasal dari koleksi pribadi Udaya Halim, tetapi juga dari sumbangan warga Tangerang, kolektor artefak kuno, dan pemerhati budaya Tionghoa Peranakan di Indonesia,” Ujar Michell, Minggu 9 Juli 2023.

Pertama kali memasuki museum, kamu akan melihat sebuah pintu yang berbentuk seperti bulan atau Moon Gate, replika tempat makan yang dibuat saat awal restorasi museum didirikan.

 

Memasuki lantai dua terdapat beragam koleksi museum yang dipasang, terdiri dari sepasang sepatu wanita dewasa, timbangan obat, patung dewa, tempat tidur, pembatas ruangan, pakaian tradisional, dan juga banyak kecap China yang masih dibuat hingga saat ini yaitu kecap benteng berlabel SH.

 

Tidak hanya itu saja, terdapat pula koleksi altar dewa, Patung Dewa Kwan Kong, Patung Dewa Fu Lu Shou, Patung Dewi Kwan Im dan Samkok perjalanan Jenderal Kwan Kong. Ada juga mainan Khas Tionghoa yaitu Mahyong.

 

Michael juga menjelaskan salhsatu patung bernama Fu Lu Shou, menurutnya makna dari patung Fu Lu Shou merupakan tiga dewa yang masing-masing memiliki nama Fu Xing, Lu Xing, dan Shou Xing yang bertugas diantaranya:

  1. Dewa Fu sebagai Dewa yang memberikan peruntungan bagus, kebahagiaan, beruntung, berkah, kesuksesan dalam hidup.
  2. Dewa Lu yang memberikan kemakmuran dan lambing kekayaan dan yang terakhir
  3. Dewa Shou memiliki makna usia panjang, usia tua, umur, hidup, ulang tahun, keluarga dan kebahagiaan dalam hidup.

 

Kontributor  : Maulida Fitria, SPI Semester 4 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor            : Mildaniati

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *