Bantenologi

Mengkaji Tradisi, Membangun Jati Diri

Pelopor Pembaruan Pendidikan Islam di Banten abad ke-20: Mathla’ul Anwar dan Al Khairiyah

Majelis Jumatan Nurul Ilmi Bantenologi kembali menyelenggarakan kajian rutin yang dilaksanakan pada jumat, 27 Januari 2023 di perpustakaan UIN SMH Banten. Hadir sebagai presenter Dr. Maftuh Ajmain, M.Pd. yang mengetengahkan materi yang berjudul Pelopor Pembaruan Pendidikan Islam di Banten abad ke-20: Mathla’ul Anwar dan Al Khairiyah.

Maftuh memulai pemaparannya dengan menjelaskan bahwa sejak abad ke-16, Banten sudah dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di Nusantara. Hal ini ditandai dengan misalnya gelar pemimpin kesultanan Banten yang lebih Arab atau Islami dibandingkan dengan penguasa di Jawa pada umumnya. Sultan-sultan Banten juga dikenal sebagai penguasa yang dekat dengan ulama dan ketat dalam menjalankan syariat. Selain itu, Banten merupakan wilayah yang menyumbang jamaah haji terbanyak asal Nusantara terutama pada abad ke-19. Hal ini yang diduga membentuk karakter rakyat Banten yang lebih fanatik jika dibandingkan dengan muslim lain di Nusantara, pungkasnya.

Maftuh melanjutkan bahwa sebelum terjadinya pembaruan yang terjadi di awal abad ke-20, pendidikan awal di Banten bersifat informal dan individual dimana pendidikan agama dilaksanakan di rumah ustadz, kyai dan hanya fokus pada pengajaran al Quran. Bahkan ketika awal Islam masuk di Banten pendidikan Islam dilakukan secara spontan. Baru setelah terbentuk kominitas yang lebih besar, pendidikan Islam mulai dilaksanakan di langgar/bale/mushola.

Masjid Kasunyatan merupakan tempat berkumpulnya ulama dan santri dan terjadi proses belajar mengajar. Pada tahapan selanjutnya muncullah pondok pesantren yang mengajarkan kitab yang tersebar di Tanara, Tubuy, Caringin, Bojonegara, Pontang dll. Menurut Bruinessen, jaringan pesantren di Banten dianggap sebagai jaringan yang paling padat dan tersebar luas. Pesantren yang tertua menurutnya diduga terletak di gunung Karang dengan tokohnya Ki Ageng Karang.

Menurut Maftuh, pada awal abad ke-20 mulailah terjadi pembaruan pendidikan Islam di Banten yang dilatarbelakangi empat faktor yaitu semangat “kembali kepada al Quran dan hadist”, tumbuhnya nasionalisme, adanya perbaikan kondisi sosial-ekonomi, dan pembaruan pendidikan Islam. Pembaruan pendidikan Islam ini kemudian melahirkan madrasah.

Dalam konteks Banten, Mathlaul Anwar merupakan pelopor pendidikan Islam di Banten dimana organisasi ini mendirikan organisasi sekaligus madrasah pada tanggal 10 Juli 1916 bertepatan dengan 11 Syawal di Menes, Pandeglang. Tokoh pendirinya diantaranya adalah KH Entol M Yasin, KH Tb Muhammad Sholeh, KH Mas Abdurrahman dan 6 orang kyai lainnya.


Madrasah model MA sudah memiliki kelas, papan tulis, meja dan kursi yang tentu merupakan sesuatu yang sangat modern ketika itu. Sementara, sistem pembelajaran dilaksanakan secara klasikal dimana terdapat kelas A, B, dan I yang masing-masing belajar selama 1 tahun. Pada tahun 1920, madarasah MA menambah kelasnya menjadi A, B, I, II, III, IV, dan V. Baru pada tahun 1929, MA memasukkan mata pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia, Aritmatika, Sejarah Dunia, Geografi, Ilmu Alam, dan Menulis Latin.

Pada tahun 1925, Mathla’ul Anwar mendirikan madrasah khusus perempuan (madrasah lil banat) namun madrasah tersebut ditutup pada tahun 1944. Sedangkan, al Khairiyah mendirikan madrasah pada tanggal 5 Mei 1925 di Citangkil, Cilegon. Madrasah al Khairiyah merupakan pelopor penggabungan ilmu agama dan ilmu sekuler (umum) di Banten karena pelajaran umum sudah diperkenalkan sejak pendirian madrasah Al Khairiyah. Padahal pada saat itu mayoritas ulama setempat masih mengharamkan ilmu umum seperti Al Jabar, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Ilmu Kosmografi, dan Ilmu Sejarah.

Dengan jenjang pendidikan kelas 0 (Awaliyah), kelas setengah (Tahdiriyah), kelas I. II. III. IV, V, dan VI dengan waktu studi sekitar 9 tahun dan usia masuk pendidikan mulai usia 7 tahun. Uniknya madrasah Al Khairiyah mencampurkan siswa laki-laki dan perempuan dalam satu kelas dan pada tahun 1936, Al Khairiyah mendirikan HIS yang meniru sekolah colonial Hindia Belanda.

Dampak pembaruan Pendidikan Islam di Banten diantaranya adalah terjadinya transformasi kepemimpinan dari pemimpin kharismatis kyai pesantren menuju kepemimpinan struktur-birokratis. Kedua, metode penekanan hafalan ke model pemahaman. Ketiga, Metode pengajaran dari bandongan sorogan ke klasikal. Keempat, evaluasi/munaqasyah juga dilaksanakan tiap tahun dimana di dunia pesantren saat itu belum dikenal. Kelima, standar pengetahuan tidak hanya bersumber kepada kitab kuning. Keenam, mulai dikenalnya ijazah dengan dasar kurikulum modern. Ketujuh, munculnya apresiasi terhadap ilmu-ilmu sekuler (umum). Kedelapan, munculnya penghargaan terhadap perempuan, dll.

Turut hadir Taufiq Rahman, ketua MA Provinsi Banten periode 2022-2027 yang mengucapkan apresiasi dari PWMA untuk Bantenologi yang mengkaji MA dan menyelenggarakan seminar ini. Dia juga berharap bahwa semoga seminar ini juga bisa dilaksanakan di waktu lainnya. Dia juga berharap agar sejarah MA perlu penggalian lagi agar lebih detail dan menyeluruh.

Selain itu hadir pula kyai Alwiyan Qasid Syam’un, pengasuh pesantren al Khairiyah yang juga keturunan langsung dari pendiri Al Khairiyah. Kyai Alwiyan juga mengapresiasi kajian-kajian mengenai Al Khairiyah dan turut mengapresiasi pelaksanaan diskusi jumatan Bantenologi.

Sementara tokoh Banten yang juga merupakan tokoh baik di lingkungan MA maupun Al Khairiyah, Udin Saparudin, mendukung jalannya diskusi dan kajian terutama kajian-kajian mengenai MA dan Al Khairiyah di Banten karena keberadaan kedua ormas tersebut sampai saat ini masih belum diperhatikan serius oleh pemerintah. Kajian-kajian seperti ini harus dikembangkan pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *