MENELITI NASKAH KUNO, BADAN RISET dan INOVASI NASIONAL (BRIN) KUNJUNGI BANTENOLOGI

Foto: CHELSEAMAJID/Bantenologi.uinbanten.ac.id. Kunjungan peneliti BRIN ke Bantenologi pada, Rabu (02/11/2022)

LABORATORIUM BANTENOLOGI, UIN BANTEN, KOTA SERANG-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengunjungi Bantenologi untuk menelusuri manuskrip kuno tentang mitigasi bencana, Selasa (02/11/2022).

Bencana gempa yang mengguncang Banten tahun lalu, membuat instansi pemerintah dan para cendikia bekerja sama untuk melakukan suatu upaya inisiasi yang perlu dilakukan agar menekan korban akibat bencana yang terjadi.

Salah satu bentuk inisiasi dini telah dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional berupa penelusuran manuskrip dan ingatan kolektif terhadap bencana akibat baribis, mulai dari fase sebelum, ketika dan sesudah bencana. Diantara manuskrip tentang mitigasi bencana yang dikaji salah satunya ialah manuskrip yang berasal dari Banten.

Peneliti BRIN yakni Mu’jizah, sebagai peneliti utama mengungkapkan bahwa Banten punya banyak potensi keilmuan yang perlu di kaji melalui manuskrip oleh para peneliti budaya.

Ia bersama rekanya Dewi Juliastuty sebagai peneliti muda, mengunjungi Bantenologi untuk melihat dan melakukan wawancara terkait manuskrip mitigasi bencana tersebut. Dalam proses penelitiannya mereka menggunakan metodologi filologi untuk mendata manuskrip yakni melakukan pengambilan foto manuskrip dan wawancara mendalam bersama pengurus Bantenologi Yadi Ahyadi.

Proses penelitian ini dilakukan selama dua hari. Hari pertama pada Selasa (01/11) dan hari kedua Rabu (02/11). Penelitian dua hari yang dilakukan oleh BRIN didampingi Yadi Ahyadi, tentunya membuahkan hasil. Penelitian ini mengungkapkan fakta-fakta baru terkait peristiwa penting di Banten pada masa lalu, ritual masyarakat Banten dan tradisi lisan yang ada di Banten.

Manuskrip yang dikaji pun tidak hanya satu, ada 5 manuskrip yang sudah di telusuri makna dan isi pada penelitian ini. Manuskrip tersebut seperti Babad Banten, Primbon, Gembong, Jawokan, dan manuskrip Banten Girang. Tidak hanya manuskrip saja, tradisi lisan seperti kekedutan misalnya salah satu mitos yang terkenal di Banten tidak ketinggalan untuk dikaji.

Kekedutan merupakan suatu petanda yang diberikan oleh tubuh kita, tanda itu bisa jadi baik atau pertanda buruk, misal kekedutan mata sebelah kiri pertanda akan ada air mata. Bisa jadi air mata bahagia atau air mata bencana”. Ungkap Yadi Ahyadi peneliti budaya Bantenologi saat diwawancarai BRIN.

Ungkapan informasi ini juga jelas tergambar pada manuskrip babad Banten yang mengungkapkan suatu tragedi bencana sebagai pertanda bahwa ada orang mulia Sultan Maulana Hasanudin datang ke Banten. Ciri-ciri kebencanaan semacam ini juga sebetulnya tertuang dalam ayat suci Alqur’an, sepeti peristiwa perang gajah raja Abrahah diserang burung ababil karena ingin menghancurkan ka’bah mengawali kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Dalam manuskrip Babad Banten terdapat beberapa informasi terkait mitigasi bencana, salah satu nya munculnya fenomena gerhana bulan, hujan angin dan badai sebelum kedatangan Sultan Maulana Hasanudin ke Banten. Bencana- bencana ini biasanya datang untuk menandakan orang mulia (penting) akan datang. Bahkan peristiwa penghancuran ka’bah di Mekkah juga awal kelahiran nabi Muhammad SAW “, Jelas Yadi pada saat diwawancarai peneliti BRIN.

Peneliti utama BRIN Mu’jizah menyampaikan bahwa penelitian ini tentu menjadi awal untuk menelusuri lebih lanjut terkait Banten melalui manuskrip. Banten punya banyak kekayaan budaya yang bisa diungkapkan dari kejayaan masa lalu. Bantenologi punya banyak peran untuk mengungkapkan hal tersebut.

Dia berharap penelitian ini berlanjut dan menjadi bentuk jalin kerjasama yang baik dan besar bersama peneliti Bantenologi kedepannya. Ia juga mengungkapkan bahwa Bantenologi lembaga yang punya banyak potensi untuk menggali kejayaan budaya tersebut.

“Kekayaan budaya itu perlu digali, diaktualisasikan, disosialisasikan. Untuk itu, Bantenologi harus punya program untuk mengalihaksarakan dan mentranskip teks-teks kuno yang menjadi sumber primer penelitian pengembangan budaya Banten”. Pungkasnya

Penelitian manuskrip tentang mitigasi bencana yang dilakukan BRIN kali ini bukan hanya dikaji memalui perspektif filologi saja, namun dikaji melalui pendekatan keilmuan lainnya seperti sains, kearsipan dan bahasa. Setelah kunjungannya ke Bantenologi peneliti BRIN akan melanjutkan penelitiannya ke BPBD Banten, Kearsipan Banten dan juga Kantor Bahasa Banten.

 

Leave a Reply