Ritual Tolak Bala Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih

Oleh Aris Muzhiat

Ritual tolak bala di kasepuhan Pasir Eurih desa Sidanglaya merupakan tradisi yang ada sejak zaman leluhur yang terus diwariskan kepada generasi penerus untuk dilestarikan sebagai salah satu identitas kebudayaan Pasir Eurih.

Tolak bala biasanya dilaksanakan setiap tahun pada hari Rabu di akhir bulan syafar yang terdapat pada tahun hijriyah. Ritual ini dilakukan oleh masyarakat Pasir Eurih bertujuan untuk menghindari berbagai bencana dan penyangkit, sementara orang-orang muslim mengenal ritual ini dengan nama rebo wekasan yaitu ritual yang dilakukan dengan salat tolak bala yang dilanjutkan dengan mandi kembang 7 warna yang bertujuan agar tubuh mereka terhindar dari segala penyakit.[1]

Ritual tolak bala tidak hanya dilaksanakan di bulan syafar, tetapi pada bulan-bulan yang dianggap masyarakat telah terdapat banyak penyakit yang ada di lingkungan Pasir Eurih. Ketika ketua adat atau pegawai kasepuhan telah melihat alam dan masyarakat banyak terkena penyakit, maka ritual tolak bala akan dilakukan di Imah Gede dan diumumkan kepada masyarakat adat kasepuhan untuk membuat bubur ti’is.[2]

Ritual tolak bala akan dimulai apabila masyarakat adat kasepuhan telah datang ke Imah Gede dengan membawa bubur yang akan dido’akan oleh ketua adat kasepuhan dan para ustadz yang berada disetiap penjuru arah mata angin yang akan melakukan doa-doa. Selain itu, terdapat sesajen yang merupakan aktualisasi dari pikiran dan perasaan seseorang untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta atau Allah SWT.

Sebelum pembacaan doa-doa untuk menolak bala, Abah Aden (ketua adat) melakukan ritual terlebih dahulu sebagai bentuk komunikasi kepada sang Pencipta dan alam semesta dengan doa-doa khusus yang hanya diketahui oleh ketua adat. Setelah ritual yang dilakukan ketua adat selesai, ketua adat mempersilahkan para ustadz yang telah ditunjuk untuk menempati sudut masing-masing yang mengarah kesetiap penjuru mata angin.[3]

Ketika ketua adat mulai membakar menyan serta membaca doa-doa khusus, para ustadz akan melaksanakan tugasnya untuk berdo’a setelah ketua adat mempersilahkan kepada mereka, doa-doa yang dibaca meliputi, wawacan syekh, membaca silsilah dan tahlil, sementara masyarakat adat yang lain bersama-sama membaca doa di depan bubur yang telah dibawa. Selama kegiatan ritual berlangsung, masyarakat atau para pengunjung tidak boleh mengambil gambar atau kegiatan ketua adat karena dianggap pamali atau menggangu konsentrasi ketua adat dalam menjalankan ritual, terutama ketika menyan telah dinyalakan oleh ketua adat.

Ketika ritual tolak bala selesai dilaksanakan oleh ketua adat dan para ustadz, masyarakat adat Pasir Eurih akan mulai berebutan mengambil bubur ti’is[4] yang berada di depan ketua adat. Masyarakat percaya bahwa bubur yang berada di dekat ketua adat terdapat keberkahan tersendiri dibandingkan dengan bubur yang dibawa oleh masyarakat. Masyarakat adat akan memberikan bubur yang telah dido’akan itu kepada keluarga, serta memberikan juga ke hewan peliharaan agar terhindar dari penyakit.

 

[1]Pada hari Rabu Kasan atau Rebo Wekasan, masyarakat meyakini tidak boleh bepergian atau melakukan aktivitas sebelum melaksanakan salat tolak bala, membaca d’oa dan riungan.

[2]Carik Jajuli (Sekertaris Desa Sindanglaya, 37 tahun) di rumahnya, 13 Agustus 2022.

[3]Ustadz yang bertugas di masing-masing penjuru ini bertujuan agar segala macam penyakit dan bencana yang datang dari berbagai penjuru dapat ditolak, sehingga masyarakat adat kasepuhan Pasir Eurih terhindar dari berbagai bencana dan penyakit yang akan menimpa mereka.

[4]Bubur ti’is merupakan bubur yang terbuat dari beras yang tidak menggunakan campuran bahan apapun, sehingga bubur tersebut memiliki rasa hambar atau alami meskipun ada juga bubur yang dibawa masyarakat telah dicampurkan garam atau penyedap makanan.

Leave a Reply