Berita

Lili Romli: Buku ‘Asyiknya Belajar Meneliti’ Memotivasi Orang Terjun ke Dunia Penelitian

KOTA SERANG, Bantenologi – Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Lili Romli, M. Si mengapresiasi terbitnya buku ‘Asyiknya Belajar Meneliti: 21 Catatan Relawan Bantenologi’ yang dilakukan oleh Laboratorium Bantenologi.

Hal itu disampaikannya saat membedah buku tersebut dalam Milad Bantenologi ke-19 di Aula Prof. Sjadzeli Hasan Lt. 1 UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Selasa (19/03/2018).

“Yang dilakukan Dr. Helmy Faizi Bahrul Ulumi, M. Hum dkk ini keren, hebat, luar biasa, dan gokil. Kalau Rektor UIN SMH Banten saya akan mengharuskan mahasiswa membeli buku ini,” serunya, diiringi tepuk tangan peserta yang hadir.

Ia menyatakan, ini bukan basa-basi, memang buku ini memotivasi orang untuk terjun ke dunia penelitian. “Karena penelitian dianggap sebagai sesuatu yang susah karena memang peneliti itu harus punya passion,” tandasnya.

Lebih lanjut, peneliti yang juga menjabat sebagai Ketua ICMI Orwil Banten itu menganalogikan peneliti dengan fotografer.

“Fotografer melihat objek/pemandangan indah atau tidak, kalau dia punya passion akan menghasilkan potret yang bagus. Begitupun peneliti akan melihat fenomena sosial itu seperti apa, kalau dia punya passion hal yang biasa akan menjadi luar biasa,” paparnya.

Ia menegaskan, di tangan peneliti fenomena sosial yang bagi sebagian orang biasa itu akan menjadi luar biasa.

“Seren Taun sesuatu yang biasa dilakukan setiap tahun, tetapi di tangan peneliti akan menjadi luar biasa untuk dijelaskan, kenapa namanya Seren Taun? apa makna filosofinya? apa yang jadi penyebabnya? bahkan bisa menjadi karya ilmiah,” terangnya.

Baca Juga: Milad Bantenologi ke-19

Menurut Lili Romli, setidaknya peneliti harus memiliki tiga kemampuan, yaitu menguasai teori-teori, mampu menulis, mengungkapkan, atau menarasikan penemuan-penemuan, di mana data-data yang banyak ditata sedemikian rupa, diolah, atau diverifikasi sehinga menjadi laporan penelitian yang bagus.

“Dosen saja belum tentu, karenanya saya memberikan apresiasi kepada 21 penulis,” serunya.

Lebih sepesifik lagi, sambungnya, buku Asyiknya Belajar Meneliti: 21 Catatan Relawan Bantenologi ini menyajikan tulisan pengalaman penelitian kualitatif.

Menurutnya, penelitian kuantitatif itu gampang karena instrumen utamanya quisioner. Yang susah penelitian kualitatif karena insrumen utamanya peneliti itu sendiri, kalau peneliti tidak mampu membaca fenomena sosial apa yang ingin diteliti/ditanya maka penelitiannya kurang bagus karena tidak mengangkat fenomena yang ada. Seringkali peneliti itu hanya mengungkapkan hal-hal yang berada di permukaannya saja tidak mendalam.

Ia berharap, para relawan terus belajar mempertajam analisis dengan memahami data lapangan dan menjadikan penelitian sebagai habit, kalau sudah passion meneliti itu memang indah.

“Karenanya saya mengapresiasi upaya Bantenologi sebagai lembaga penelitian yang mendidik relawan-relawan peneliti,” tutupnya.

Senada dengan Lili Romli, Direktur Bantenologi, Helmy Faizi Bahrul Ulumi menyatakan buku ‘Asyiknya Belajar Meneliti’ itu keren karena dua hal, yaitu penelitian itu sesuatu yang menarik dan dalam setiap penelitian pasti ada cerita menarik pula dari berbagai hal.

“Teman-teman relawan Bantenologi berhasil menuliskan pengalaman penelitiannya, dan bisa menginspirasi siapa pun yang membacanya,” ungkapnya.

Ia berharap, buku tersebut dapat menginspirasi dan mengajak mahasiswa khususnya untuk mencintai penelitian karena penelitian itu pintu gerbang menuju pengetahuan yang lebih luas. (red)

Leave a Reply