Bantenologi
Berita

Milad Bantenologi ke-19

KOTA SERANG, Bantenologi – Secara resmi Bantenologi didirikan pada 3 Maret 2000 oleh Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan RI, Sarwono Kusumaatmadja. Kemudian pada 2007, nama Bantenologi direvitalisasi menjadi Laboratorium Bantenologi.

Hal tersebut disampaikan Direktur Bantenologi, Helmy Faizi Bahrul Ulumi, saat memberikan sambutan dalam acara Ngopi#9 ‘Milad Bantenologi ke-19’ di Aula Prof. Sjadzeli Hasan Lt. 1 UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Selasa (19/03/2018).

“Jadi perayaan milad Bantenologi ini diambil dari tahun lahirnya, yaitu tahun 2000,” serunya.

Ia menyatakan, saat bergabung dengan Bantenologi secara resmi pada 2006, dirinya bersama Mufti Ali, Rubi Achmad Baedhowi (Alm), Abah Yadi, dkk mengalami kegelisahan yang sama, yaitu sulitnya mencari sumber-sumber/referensi tentang Banten.

“Waktu itu saya sedang menulis tesis tentang Magis di Ciomas,” kenangnya.

Berangkat dari permasalahan tersebut, sambung Helmy, kami berpikir untuk memproduksi pengetahuan tentang Banten. Meskipun begitu, kami maklumi sejak Banten diresmikan menjadi provinsi ada kegalauan dari masyarakat, ketika ditanya sebetulnya orang Banten itu siapa?, seperti apa budayanya?, dan seterusnya.

“Kami sulit sekali mencari sumber-sumber yang menjelaskan tentang itu,” tandasnya.

Ia menegaskan, itulah yang memotivasi untuk menjadikan Bantenologi sebagai lembaga kajian yang serius dan istiqomah tentang Banten, selain menyelenggarakan acara-acara tertentu lainnya,” paparnya.

Huruf ‘Qof’ dalam Milad Bantenologi ke-19

Lebih lanjut Helmy menjelaskan, makna huruf Qof dalam logo Milad Bantenologi ke-19, yaitu Qof menjadi huruf awal dari kata ‘Qoroa’ yang artinya Membaca, dan Qof menjadi huruf pertama dari kata ‘Qohwah’ yang berarti Kopi.

“Itu alasan kenapa logo itu bisa muncul dalam Milad Bantenologi ke-19. Saya yang merancang dan dieksekusi oleh relawan Bantenologi, Arif Wijaksana,” tukasnya.

Dalam Milad Bantenologi ke-19 ini kami me-launching buku “Asyiknya Belajar Meneliti: 21 Catatan Relawan Bantenologi”.

“Buku itu berisi tulisan pengalaman mereka selama mendampingi penelitian Bantenologi di berbagai lokasi,” kata Helmy. 

Baca Juga: Antusiasme Perayaan Milad Bantenologi ke-19

Kiprah dan Konsistensi Bantenologi

Selanjutnya, Helmy memaparkan hal-hal yang sudah dilakukan Bantenologi sampai usia ke-19 dan akan konsisten dalam berbagai hal ke depan.

Pertama, Bantenologi itu sudah mentaktiskan dirinya sebagai lembaga riset karena itu kami akan terus berkomitmen pada produksi pengetahuan tentang Banten dari berbagai perspektif.

“Tetapi saat ini SDM kita masih terbatas pada kajian sejarah dan budaya. Ke depan berbagai latar belakang keilmuan akan bergabung sambil berjalan,” ujarnya.

Kedua, upaya mendokumentasikan tentang Banten.

“Selama ini kalau ingin tahu tentang Banten itu harus mengakses ke Leiden-Belanda. Memang, KITLV menjadi inspirasi kita, di mana orang Belanda saja rajin mengumpulkan foto-foto meskipun bagi kita remeh, ternyata seratus tahun ke depan menjadi sesuatu yang berharga. Itulah kenapa kami melakukan dokumentasi baik berupa visual maupun audio-visual,” terang Helmy.

Ketiga, layaknya lembaga kajian maka harus menyiapkan sumber bacaanya karena itu kami mengembangkan perpustakaan, khususunya tentang Banten.

“Di antaranya, Ruby Achmad Baedhowi (Alm) banyak mewakafkan bukunya ke Bantenologi, mudah-mudahan menjadi amal jariyah,” doanya.

Keempat, menyelenggarakan seminar sebagai bentuk diseminasi pengetahuan. “Secara rutin kami menyelenggarakan seminar Nasional dan Internasional dengan mengundang narasumber dari luar negeri seperti Belanda, Perancis, kemudian ngobrol pengetahuan ilmiah, dan pelatihan-pelatihan terutama untuk relawan Bantenologi,” ungkapnya.

“Saat mencari data ke lapangan Bantenologi memiliki tiga tim, yaitu tim peneliti, jurnalis, dan dokomentasi,” ujarnya.

Ia berharap ketika kedatangan tamu dari luar yang ingin melihat budaya Banten seperti Seba Baduy, Seren taun Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cicarucub bisa melihat videonya karena itu ritual-ritual tahunan.

“Itu yang menjadi visi-misi Bantenologi. Oleh karenanya, kami memohon doa dari semua pihak agar tetap istiqomah dan diberikan kekuatan lahir batin karena membangun Bantenologi tantangannya tidak kecil,” tutupnya.

Wakil Rektor II, Encep Syarifuddin, mewakili Rektor UIN SMH Banten mengapresiasi Bantenologi yang telah berkiprah selama 19 tahun.

“19 tahun perjalanan panjang, dan Bantenologi berhasil melewati masa sulit/ujian pada 2007. Ini suatu hal luar biasa dari sisi usia berada pada masa dewasa, dan Bantenologi sudah merintis perjalanannya dengan gagah perkasa,” ungkapnya.

Ia berharap, selain dengan UIN SMH Banten Bantenologi juga terus menjalin kerjasama-kerjasama dengan pihak provinsi dan lainnya.

Diketahui, Milad Bantenologi ke-19 menyajikan acara Launching Bedah Buku Asyiknya Belajar Meneliti 21 Catatan Relawan Bantenologi serta Diskusi 5 Film Dokumenter Bantenologi tentang Seren taun Kasepuhan Cisungsang dan Kasepuhan Cicarucub, Ruwat Bumi, Toleat, dan Seba Baduy, serta dimeriahkan oleh pertunjukkan Orkes Band Efek Rumah Dinas Gesbica UIN Banten dan Ubrug Mang Brosot.

Turut hadir dalam acara ini, Peneliti LIPI sekaligus Ketua ICMI Orwil Provinsi Banten, Lili Romli (pembedah buku), Lembaga Pelestari Kebudayaan, Henriana Hatra, mewakili Kasepuhan Cisungsang, Dinas Pariwisata, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, komunitas, sejarawan, budayawan, dosen, mahasiswa, dan pelajar. (red)