Berita

Banten Heritage Usung 3 Visi dalam Milangkala ke-16

LEBAK, Bantenologi – Di usianya yang ke-16 tahun, Banten Heritage mengusung tiga visi, yakni menghidupkan kopi Banten, melakukan mitigasi bencana, dan menyoal ketahanan pangan.

Hal tersebut diungkapkan oleh pendiri Banten Heritage, Ali Fadilah, saat ditemui tim Bantenologi usai acara Milangkala ke-16 Banten Heritage di Museum Multatuli, Kabupaten Lebak, Banten, akhir pekan kemarin, Sabtu (26/01/2019).

Ali Fadilah menjelaskan, saat ini di beberapa daerah di Banten kedai kopi mulai menjamur dan menjadikan kopi sebagai produk andalan. Namun demikian,  kebanyakan kopi yang dijual berasal dari Aceh sampai Wamena Papua, sementara kopi asal Banten belum ada.

 “Kopi Banten hampir tidak ada, padahal dulu Banten ini pernah menjadi daerah pemasok kopi robusta yang dijual di pasar Eropa, tepatnya di era pemerintah kolonial Belanda,” ungkapnya.

“Kami membangun visi baru, kopi harus dihidupkan kembali di daerah Banten,” tandasnya.

Ali juga menegaskan, pihaknya akan melakukan mitigasi bencana. “Bagaimana pun Banten tidak bisa lepas dari bencana, terutama yang disebabkan oleh letusan Gunung Krakatau atau lempeng,” paparnya.

Selain itu, sambungnya, Banten Heritage juga akan fokus menyoal ketahanan pangan.

“Pada 1950-an Bung Karno mengatakan masalah pangan adalah masalah kita semua, soal pangan adalah soal hidup matinya bangsa. Kami tertarik pada ungkapan Bung Karno itu,” terangnya.

“Kita akan melakukan pengkajian-pengkajian untuk mengantisipasi kekurangan pangan yang diakibatkan oleh berkurangnya lahan pertanian karena pembangun fisik dan lainnya. Juga, mencoba mencari pangan alternatif selain beras dan terigu. Kita akan mengarahkan pada umbi-umbian yang bisa membantu asupan karbohidrat sebagai pengganti beras dan terigu,” tutupnya.

Sementara itu, Helmy Faizi Bahrul Ulumi, Direktur Laboratorium Bantenologi yang hadir dalam Milangkala ke-16 mengaku senang telah bermitra dengan Banten Heritage.

“Secara pribadi saya senang bermitra dengan lembaga yang geraknya model Banten Heritage. Sepanjang 16 tahun, paling berkesan, mungkin waktu penggarapan Raperda Kebudayaan Daerah dan berkegiatan di Saba Juhud,” ungkapnya.

Sedang secara kelembagaan, imbuh Helmy, Bantenologi pernah bermitra dengan Banten Heritage saat melaksanakan Kongres Kebudayaan 2016 yang dihelat oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Banten.

“Banten Heritage menjadi salah satu lembaga yang berada di garda terdepan untuk Banten, dari mulai kajian sejarah, arkeologi, pemberdayaan masyarakat, dan lainnya,” pungkasnya. (Andri)

Leave a Reply